Page 1249 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 NOVEMBER 2020
P. 1249

dalam hal ini menteri ketenagakerjaan (menaker) tanpa sensitivitas pada nasib pekerja dan lebih
              condong memihak kepada pengusaha.
              Benarkah pemerintah tidak memiliki sensitivitas terhadap nasib pekerja? Yang pasti, Menaker
              Ida  Fauziyah  telah  menerbitkan  Surat  Edaran  (SE)  Nomor  M/11/HK.04/X/2020  tentang
              Penetapan Upah Minimum Tahun 2021 pada Masa Pandemi Covid-19, yang menyatakan tidak
              ada kenaikan upah minimum tahun depan. Adapun yang mendasari SE yang diterbitkan pada 26
              Oktober lalu karena kondisi ekonomi Indonesia yang tidak memungkinkan. Pasalnya, pemerintah
              tidak ingin kenaikan upah minimum tahun depan justru akan memberatkan dunia usaha. Jadi,
              semangat  dari  kebijakan  tersebut  adalah  untuk  kepentingan  dua  pihak  antara  pekerja  dan
              pengusaha.  Kebijakan  itu  dimaksudkan  memberikan  perlindungan  dan  kelangsungan  bekerja
              bagi pekerja serta menjaga kelangsungan usaha.

              Sebelumnya kalangan pengusaha sudah mengajukan ke pemerintah agar tahun depan kenaikan
              upah  minimum  ditiadakan.  Pengusaha  beralasan  bahwa  dampak  pandemi  Covid-19  telah
              membuat  dunia  usaha  tiarap.  Gayung  bersambut,  keinginan  kalangan  pengusaha  direstui
              pemerintah.  Selain  itu,  Menaker  Ida  Fauziyah  juga  membeberkan  bahwa  keputusan  tanpa
              kenaikan upah minimum tahun depan sudah melalui dialog bersama dengan Dewan Pengupahan
              Nasional (Depenas). Menaker mengakui sungguh sulit mencari keputusan yang tepat. Namun,
              pada akhirnya keputusan yang dinilai KSPI lebih berpihak pada pengusaha adalah jalan tengah
              yang harus ditempuh pemerintah.

              Meski  sudah  dituangkan  dalam  SE  tanpa  kenaikan  upah  minimum,  pihak  KSPI  tidak  akan
              menyerah dan tetap mengusulkan kenaikan upah minimum sebesar 8% untuk tahun depan.
              Lebih jauh Presiden Asosiasi Serikat Pekerja (Aspek) Indonesia Mirah Sumirat menilai bahwa
              persoalan upah minimum ini bukan sekadar masalah antara pekerja dan pengusaha. Dampak
              lebih besar tanpa kenaikan upah minimum akan berpengaruh pada daya beli pekerja. Apabila itu
              terjadi, adalah sebuah ancaman bagi pertumbuhan ekonomi yang ditopang oleh konsumsi. Jauh
              sebelumnya  pihak  KSPI juga  sudah  menyuarakan  seputar  anjloknya daya  beli  pekerja  tanpa
              kenaikan upah minimum yang pada akhirnya bisa mengganggu pertumbuhan ekonomi.

              Namun,  sepertinya  pemerintah  tidak  termakan  oleh  “gertak”  para  aktivis  pekerja  yang
              menyatakan  daya  beli  pekerja  ambruk  tanpa  kenaikan  upah  minimum.  Mengatasi  daya  beli
              pekerja yang melempem, pemerintah akan memainkan kartu melalui subsidi upah. Menaker Ida
              Fauziyah menyebut bahwa pemerintah telah menyiapkan bantalan sosial.

              Akan tetapi, di mata ekonom langkah pemerintah tak menaikkan upah minimum dinilai kurang
              tepat. Kenapa? Pengamat ekonomi dari Institute Development of Economic and Finance (Indef)
              Bhima Yudhistira mengutarakan bahwa pemerintah seharusnya membuat kebijakan sebaliknya
              bila  masalah  ekonomi  menjadi  pertimbangannya.  Dengan  kebijakan  tanpa  kenaikan  upah
              minimum, kalangan pekerja semakin “bersemangat” turun ke jalan. Artinya, situasi akan semakin
              panas  yang  bisa  jadi  mengundang  aksi  massa  yang  kian  besar  karena  sudah  menyangkut
              kepentingan langsung pekerja yakni upah. Siap-siap, pengamanan ditambah.

















                                                          1248
   1244   1245   1246   1247   1248   1249   1250   1251   1252   1253   1254