Page 845 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 NOVEMBER 2020
P. 845

Penerbitan  SE  ini  dilakukan  dalam  rangka  memberikan  perlindungan  dan  keberlangsungan
              bekerja bagi pekerja atau buruh serta menjaga kelangsungan usaha.
              "Jika dalam kondisi seperti ini ada kenaikan UMP, maka pengusaha akan melakukan rasionalisasi
              yang  lebih  ketat,  misalnya  melakukan  PHK  yang  semakin  banyak  dan  tahun  depan  tidak
              menambah karyawan baru," kata Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia
              (Hippi) DKI Jakarta, Sarman Simanjorang, kepada Selasa (27/10/2020).

              Sarman  juga  menekankan  mengenai  kondisi  dunia  usaha  saat  ini  yang  sudah  tidak
              memungkinkan untuk menaikkan UMP 2021. Bisa bertahan saja, menurut dia, sudah sangat
              bagus.

              "Kondisi  dunia  usaha saat  ini yang  sudah  ngos-ngosan  untuk  mampu  bertahan  sangat tidak
              memungkinkan  menaikkan  UMP  2021.  Banyak  pengusaha  sudah  sangat  terpuruk,  cash  flow
              sudah  mengkhawatirkan.  Jika  UMP  dinaikkan  akan  menambah  beban  pengusaha  dan  akan
              semakin terpuruk," kata dia.
              7. Pengusaha: UMP harusnya turun Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia
              (Hippi)  DKI  Jakarta,  Sarman  Simanjorang  mengatakan  keputusan  ini  sudah  sesuai  dengan
              rumusan yang ditetapkan dalam PP No.78 tahun 2015. Yakni UMP Tahun berjalan ditambah
              (UMP tahun berjalan dikalikan Pertumbuhan ekonomi dan inflasi nasional tahun 2020).
              "Jika kita hitung malah minus, seharusnya UMP turun, tapi kan tidak mungkin UMP diturunkan,
              maka kenaikan 0 persen sudah sangat bijak," kata Sarman kepada Selasa (27/10/2020).

              Di sisi lain, Sarman beranggapan jika UMP dipaksakan untuk naik, maka implikasinya adalah
              terjadi PHK. Hal ini, kata Sarman, sebagai bentuk rasionalisasi pengusaha di tengah himpitan
              krisis pandemi covid-19 ini.









































                                                           844
   840   841   842   843   844   845   846   847   848   849   850