Page 18 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 18
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Sarjana yang sangat penting untuk disebut di sini adalah Clifford Geertz. Dalam
Geertz membagi konteks spesifik ini, pengertian budaya sebagaimana diketengahkan Geertz
masyarakat Jawa ke sangat relevan untuk dipertimbangkan. Geertz memaknai budaya sebagai
dalam tiga orientasi
agama dan sosio politik sistem makna yang tampil “menjadi sumber, secara individu ataupun kelompok,
yang berbeda: santri, bagi konsepsi umum, tetapi distinktif, tentang dunia, diri, dan hubungan di
priyayi, dan abangan. antara mereka”. Pemikiran Geertz di atas dibangun melalui studinya di Jawa,
Tiga kelompok Jawa dan terefkeksikan pada karya seminal-nya yang kini sudah klasik, The Religion
di atas tidak hanya of Java (1960). Dalam buku ini, Geertz membagi masyarakat Jawa ke dalam
bisa dilihat dari sisi
pengelpmpokan sosial, tiga orientasi agama dan sosio-politik yang berbeda: santri, Muslim taat dan
tetapi juga pada ortodoks (practising Muslims); priyayi, elite ningrat yang dalam batas tertentu
sistem pengetahuan, dipengaruhi tradisi Hindu-Jawa; dan abangan, sebagian besar masyarakat desa
pemaknaan dan di mana kepercayaan dan praktik pra-Islam masih terlihat; mereka sering disebut
praktik-praktik ritual sebagai nominal Muslims atau ID Card Muslims.
keagamaan dan
bahkan afiliasi politik.
Semua itu melahirkan Memang, karya ini telah menjadi sasaran berbagai kritik. Beberapa sarjana
apa yang kemudian mempertanyakan teori Geertz, terutama berkenaan dengan mencampuradukkan
disebut sebagai politik kategori sosial-vertikal priyayi dengan kategori religio-budaya bersifat horizontal
aliran dalam sejarah
dan dinamika politik antara santri dan abangan. Kritik atas Geertz juga disuarakan beberapa sarjana
Indonesia lain yang tampil sebagai pembela Islam Jawa. Mereka umumnya berangkat
dari pemikiran Marshal Hodgson yang mengkritik Geertz atas pemahaman
Islamnya yang ‘hanya berdasarkan cara pandang kelompok modernis, seraya
mengganggap segala hal yang lain berasal dari latar belakang pribumi dan
Hindu-Budha’.
Lepas dari itu semua, poin penting untuk ditekankan adalah bahwa Geertz telah
meletakkan dasar kuat tradisi kulturalis dalam studi ini Indonesia, di mana sistem
budaya memiliki posisi sentral dalam kehidupan. Tiga kelompok masyarakat
Jawa di atas (santri, abangan dan priyayi)—by extension, bisa mencakup seluruh
masyarakat Muslim Indonesia sejak dari Sabang sampai Merauke—tidak hanya
bisa dilihat dari sisi pengelompokkan sosial (social grouping), tapi juga pada
sistem pengetahuan, pemaknaan dan praktik-praktik ritual keagamaan, dan
bahkan afiliasi politik; semua itu melahirkan apa yang kemudian disebut sebagai
politik aliran dalam sejarah dan dinamika politik Indonesia.
................. I .................
Dengan demikian, istilah kebudayaan Islam dalam konteks ini mengacu pada
kondisi di mana Islam berfungsi sebagai sistem makna yang secara sangat
berarti menentukan kehidupan kaum Muslim, mulai dari pandangan dunia
(world view-weltanscahuung), pemikiran, sikap sosial-politik dan keagamaan,
2

