Page 19 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 19
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
praktik-praktik ritual, institusi dan gerakan, cita rasa (bahasa, sastra, dan seni),
hingga benda-benda peninggalan (heritage) yang terkait dengan konsepsi dan Kebudayaan Islam
pemaknaan keagamaan. Semua itu menjadi elemen utama dari kebudayaan dalam konteks
ini mengacu pada
Islam. Dengan demikian, istilah tersebut mengacu pada dimensi keislaman yang kondisi di mana Islam
sudah terinstitusionalisasi sedemikian rupa dalam kehidupan kaum Muslim; berfungsi sebagai
Islam yang telah berfungsi sebagai sumber makna bagi kaum Muslim untuk sistem makna yang
memaknai dunia, diri dan hubungan sesama mereka. secara sangat berarti
menentukan kehidupan
kaum Muslim, mulai
Dalam sejarah Indonesia, tampilnya Islam sebagai sumber makna—mengikuti dari pandangan
argumen Geertz—telah berlangsung dalam proses yang panjang, dan melalui dunia (world view-
berbagai lapisan pengalaman sejarah yang bertingkat-tingkat. Proses tersebut weltanscahuung),
bermula dari konversi keagamaan—ketika seseorang memutuskan beralih pemikiran, sikap
sosial-politik dan
menjadi Muslim—hingga periode ketika Islam menjadi satu kekuatan sosial- keagamaan, praktik-
politik dan selanjutnya gerakan untuk revitalisasi dan pemurnian pemahaman praktik ritual, institusi
dan praktik-praktik Islam sehingga sesuai sejalan dengan tuntutan–tuntutan dan gerakan, cita rasa
baru yang muncul dalam perkembangan sejarah. (bahasa, sastra, dan
seni), hingga benda-
benda peninggalan
Abad ke-13 merupakan salah satu satu tonggak penting dalam proses (heritage) yang terkait
Islamisasi Kepulauan Nusantara yang kemudian disebut Indonesia. Periode dengan konsepsi
tersebut ditandai tidak hanya oleh tumbuhnya komunitas Muslim (umat) dan dan pemaknaan
berlangsungnya konflik, akulturasi dan akomodasi antara Islam dengan tradisi keagamaan.
sosial-budaya lokal, tapi juga pembentukan entitas politik Islam, yang disebut
kerajaan atau kesultanan.
Lebih dari itu, sejak periode itu pula upaya pertanggungjawaban kultural
terhadap proses Islamisasi mulai dilakukan. Islam secara perlahan tapi pasti
menjadi bagian dari budaya lokal—bukan sesuatu yang asing yang bisa saja
merusak tata-kosmis kehidupan masyarakat—dan karenanya diekspresikan
dalam istilah-istilah yang berakar kuat dalam kehidupan masyarakat. Dengan
demikian, proses Islamisasi menjadi bermakna secara kultural dan karenanya
tidak melahirkan gejolak sosial yang berarti. Dalam proses ini, Islam akhirnya
menjadi berurat berakar dan terintegrasi (embedded) dalam realitas kehidupan
sosial-budaya masyarakat Muslim lokal yang terdiri dari beragam kelompok etnis
dan suku sejak dari suku Aceh, Minangkabau, Melayu, Jawa, Sunda, Banten,
Madura, Banjar, Bugis, Sasak sampai Ternate, Ambon dan seterusnya.
Penerjemahan Islam
dalam budaya lokal
Dalam konteks demikian, penerjemahan Islam dalam budaya lokal (vernacularization)
(vernacularization) berlangsung sangat intensif dan menjadi satu ciri utama berlangsung sangat
perkembangan Islam Indonesia yang kemudian menjadi terlihat distingtif vis- intensif dan menjadi
a-vis Islam di wilayah-wilayah lain. Pembentukan distingsi Islam Indonesia itu satu ciri utama
terutama dimungkinkan watak Sufisme yang inklusif dan adaptif—yang dibawa perkembangan Islam
Indonesia yang
para guru Sufi pengembara ke Nusantara—dengan keragaman budaya lokal. kemudian menjadi
Islam yang kental diwarnai tasawuf ini merupakan arus utama pemahaman, terlihat distingtif vis-
pemikiran, dan praktik Islam sejak periode awal—memberi kontribusi sangat a-vis Islam di wilayah-
berarti bagi proses penterjemahan Islam tersebut. wilayah lain.
3

