Page 21 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 21

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           Tarekat reformis yang kemudian menjadi ‘Perang Padri’ di Sumatera Barat sampai
           kepada perlawanan ‘Geger Cilegon’, Banten pada akhir abad 19—menjelang
           datang dan berkembangnya pemikiran dan gerakan Islam modernis.

           Modernisme Islam memunculkan tidak hanya pemikiran baru, tetapi juga banyak
           institusi baru. Muhammadiyah (berdiri di Yogyakarta pada 1912) merupakan
           satu contoh dari institusi dan gerakan pembaharuan (di Sumatera Barat biasa
           disebut Kaum Muda) yang mengagendakan upaya pemurnian Islam dari takhyul,
           bid’ah  dan  khurafat  (dalam  ejaan  lama  ‘TBC’).  Untuk  mencapai  pemurnian
           Islam, Muhammadiyah tidak hanya menjalankan dakwah konvesional dari atas
           mimbar, tetapi juga melakukan dakwah bil hal dengan membangun lembaga
           pendidikan Islam moderen berbasis pendidikan Belanda (Dutch-based schooling    Muhammadiyah dan
           system) dan lembaga-lembaga kepenyantunan seperti rumahsakit, klinik, rumah    NU yang merupakan
           yatim piatu dan seterusnya.                                                     representasi Islam
                                                                                          Indonesia Washatiyah
                                                                                          (‘jalan tengah’) yang
           Juga perlu dicatat di sini adalah organisasi Nahdlatul Ulama (NU), berdiri pada   menjadi lembaga
           1926 sebagai kebangkitan kaum ulama, umumnya yang berbasis di pesantren,         keormasan Islam
           dengan sejumlah agenda untuk mempertahankan dan merevitalisasi lembaga            Indonesia. Bisa
           dan tradisi Islam yang sudah lama berakar dalam sejarah Indonesia. Signifikansi   ditemukan ormas
           NU dalam hal ini terlihat khususnya dalam konteks pesantren dan madrasah,     serupa sejak dari PUSA
                                                                                            (Persatuan Ulama
           dan juga tarekat.                                                                Seluruh Aceh), al-
                                                                                         Washliyah di Sumatera
           Tetapi jelas bukan hanya Muhammadiyah dan NU yang merupakan representasi      Utara, Perti di Sumatera
           Islam Indonesia Washatiyah (‘jalan tengah’) yang menjadi lembaga keormasan     Barat, Dewan Dakwah
                                                                                           Islamiyah Indonesia
           Islam Indonesia. Bisa ditemukan ormas serupa sejak dari PUSA (Persatuan Ulama   (DDII), Jami’ah Khair
           Seluruh Aceh), al-Washliyah di Sumatera Utara, Perti di Sumatera Barat, Dewan   dan al-Irsyad (semua
           Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Jami’ah Khair dan al-Irsyad (semua berpusat   berpusat di Jakarta),
           di Jakarta), Mathla’ul Anwar di Banten dan Jawa Barat, Persatuan Umat Islam     Mathla’ul Anwar di
           (PUI) dan Persis di Jawa Barat, Nahdlatul Wathan (NW) di NTB, al-Khairat, dan   Banten dan Jawa Barat,
                                                                                          Persatuan Umat Islam
           Darut-Dakwah wa al-Irsyad (di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah). Semua       (PUI) dan Persis di
           ormas  Islam  ini—sebagai  Islamic-based civil society—tidak  hanya  melahirkan   Jawa Barat, Nahdlatul
           banyak lembaga dan institusi, tapi juga menjadi jembatan di antara negara pada   Wathan (NW) di NTB,
           satu pihak dengan masyarakat akar rumput pada pihak lain. Mereka menjadi       al-Khairat, dan Darut-
           kekuatan pengimbang, pemelihara kohesi sosial dan penyedia alternatif          Dakwah wa al-Irsyad
                                                                                           (di Sulawesi Selatan
           kepemimpinan bagi negara-bangsa Indonesia.                                     dan Sulawesi Tengah).
                                                                                           Semua ormas Islam
           Termasuk dalam konteks gerakan dan lembaga adalah berdirinya partai politik    ini—sebagai Islamic-
           Islam yang menjadi kendaraan dari sebagian kalangan kaum Muslim yang            based civil society—
           bergerak di bidang politik dan kekuasaan. Meski kinerja partai politik Islam sejak   tidak hanya melahirkan
                                                                                          banyak lembaga dan
           masa pascakemerdekaan, khususnya Pemilu 1955, sampai masa Orde Lama,            institusi, tapi juga
           Orde Baru dan masa Reformasi tidak pernah seperti yang diharapkan para         menjadi jembatan di
           pimpinan dan anggotanya, tetap saja partai Islam merupakan institusi penting    antara negara pada
           dalam dinamika politik Indonesia.                                               satu pihak dengan
                                                                                            masyarakat akar
                                                                                         rumput pada pihak lain.






                                                                                                  5
   16   17   18   19   20   21   22   23   24   25   26