Page 20 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 20
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Karena itu, tidak heran jika di lingkungan istana, di Jawa maupun di Melayu,
Di lingkungan istana,
di Jawa maupun di tumbuh pemikiran Islam yang berorientasi-raja, yang dirumuskan misalnya
Melayu, tumbuh dalam berbagai istilah yang mencerminkan eksistensi raja-sufi. Bersamaan
pemikiran Islam yang dengan itu, doktrin Islam di bidang hukum (fikih), tafsir, teologi, dan sejarah
berorientasi-raja, yang juga mulai beredar. Hal terakhir ini berlangsung sejalan dengan hadirnya ulama,
dirumuskan misalnya bersama lembaga pendidikan Islam (surau di Sumatra Barat, dayah di Aceh, dan
dalam berbagai istilah
yang mencerminkan pesantren di Jawa), yang berperan penting dalam proses penterjemahan Islam
eksistensi raja-sufi. di atas. Perlu pula dicatat dalam konteks ini adalah produksi dan peredaran
Bersamaan dengan itu, naskah-naskah keagamaan yang ditulis para ulama menyangkut ilmu-ilmu
doktrin Islam di bidang keislaman di atas. Naskah-naskah ini dengan cepat beredar ke berbagai pelosok
hukum (fikih), tafsir, Nusantara, yang sekaligus mencerminkan watak ‘kemengaliran’ (fluidity) Islam
theologi, dan sejarah
juga mulai beredar Indonesia. Fluiditas ini merupakan salah satu faktor penting yang membentuk
Islam Indonesia sebagai ranah budaya Islam (Islamic cultural sphere) yang
distingtif.
Di tengah komunitas Muslim, hadirnya Islam sebagai sumber makna bisa dilihat
misalnya dari berbagai ekspresi praktik ritual keagamaan yang mencerminkan
adaptasi Islam dalam tradisi lokal—upacara selametan, tahlilan, ritus peralihan
(rites de passage) seperti kelahiran, perkawinan, dan kematian, barzanji, ziyarah
kubur dan lain sebagainya. Dalam praktik ritual tersebut, tradisi lokal pra-Islam
tampak masih bisa dilihat, tapi sudah diberi warna baru yang bersumber dari
ajaran Islam. Bisa disebut, adopsi berbagai tradisi lokal ini melibatkan semacam
proses ‘Islamisasi’; pranata, lembaga dan tradisi sosial-budaya diadopsi dengan
mengganti muatan atau substansinya dengan pandangan dunia, pemahaman
dan praktek Islam yang lebih ortodoks.
Selain tradisi sosial-budaya yang bersifat ritual, hal dan proses serupa juga bisa
diidentifikasi dari tradisi sastra seni, di mana nilai-nilai Islam tampil sebagai
substansi utama di balik karya sastra dan eskpresi kesenian yang bersumber
dari tradisi lokal. Sastra bisa menjadi satu contoh di sini. Banyak karya jenis ini
sudah dilahirkan oleh tokoh Muslim sepanjang sejarah Indonesia, mulai dari
Hamzah Fansuri (salah seorang ulama terkemuka Nusantara abad ke-16) hingga
sastrawan Indonesian moderen semacam Hamka, atau kontemporer semisal
Danarto.
Begitu pula di tingkat institusi, lembaga dan gerakan. Sejarah Indonesia telah
menyaksikan tumbuhnya berbagai institusi yang menjadikan Islam sebagai
ajaran dan ideologi gerakan. Sejak abad 17 lembaga tasawuf, tegasnya
tarekat, menjadi kerangka organisasi jihad melawan Belanda yang terus
berusaha menguasai daerah demi daerah di Indonesia. Ini bermula, misalnya
dari keterlibatan Syekh Muhammad Yusuf al-Maqassari bersama Sultan Ageng
Tirtayasa melawan Belanda, perjuangan Pangeran Diponegoro, perang kaum
4

