Page 23 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 23

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           Di samping institusi hukum yang terkait dengan lembaga negara, sejarah Islam
           Indonesia juga mencatat peran penting lembaga spiritual, yakni tarekat, dalam
           dinamika dan perkembangan kaum Muslim. Selain peran sentralnya dalam
           mewarnai peta persebaran Islam di Indonesia, gerakan tarekat begitu menarik
           diulas khususnya ketika gerakan ini nyatanya tidak saja terpaku hanya pada
           ranah kehidupan keagamaan, tapi juga dalam bidang sosial-ekonomi dan
           politik. Bagian tentang hal ini—ditulis Zulkifli dan Setyadi Sulaiman—menelusuri
           sejarah dan perkembangan gerakan tarekat di Indonesia. Selain menjelaskan
           keterkaitan Sufisme dan Islamisasi Nusantara, tulisan ini juga membahas sejarah
           kemunculan dan perkembangan gerakan tarekat di Indonesia. Fokus utamanya          Taufik Abdullah
                                                                                          mengemukakan teori
           adalah pada dimensi aktivisme tarekat. Dengan dasar tersebut, perihal profil,   gelombang-gelombang
           jaringan, dan aktivitas beberapa tarekat pada gilirannya menjadi ranah kajian    dinamika sosial
           dari tulisan ini.                                                               dan intelektual itu
                                                                                          terdiri dari; pertama,
           Memasuki masa modern pada awal abad ke-20, institusi dan gerakan Islam        gelombang penyebaran
                                                                                         awal Islam di Nusantara
           Indonesia mengambil bentuk salah satunya organisasi massa Islam (kemudian      ketika Islam di Arabia
           disebut ormas Islam), yang menjadi salah satu kekuatan perumus Islam berwatak   telah “lulus ujian”
           Indonesia.  Hal ini terutama terkait dengan ormas berkarakter Islam moderat,   menghadapi pemikiran
           yakni Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sebagai dua ormas terbesar          Persia, Hellenisme,
                                                                                           India, dan lain-lain.
           di Indonesia. Dua organisasi ini pula yang mampu menstabilkan demokrasi di    Gelombang ini disebut
           Indonesia dan menahan arus penetrasi kelompok Islamis atau kelompok radikal.   Taufik Abdullah sebagai
           Selain NU dan Muhammadiyah, terdapat berbagai ormas Islam lain, baik yang     gelombang “dunia fana
           sudah setua NU dan Muhammadiyah, maupun yang baru muncul setelah               yang kosmopolitan”.
           Reformasi 1998; baik yang bersifat lokal, maupun yang bersifat trans-nasional;   Gelombang kedua,
                                                                                          ketika Islam semakin
           baik  yang  bisa  dikelompokkan  dalam  kategori  ormas  pembaharu  maupun     menyebar dari Timur
           ormas garis keras. Termasuk yang berkembang di Indonesia adalah ormas-          Tengah ke tempat-
           ormas bukan arus utama (non-mainstream) seperti Syiah, Ahmadiyah, dan LDII      tempat lain dengan
           (Lembaga Dakwah Islam Indonesia).                                              membawa pemikiran
                                                                                           ortodoksi sehingga
           Bersamaan dengan ormas Islam, perkembangan di awal abad ke-20 juga            menghasilkan apa yang
                                                                                           disebutnya sebagai
           menyaksikan kehadiran buku Islam sebagai bagian inheren dari perkembangan      “Islamisasi realitas”.
           keagamaan di kalangan kaum Muslim Indonesia. Hal ini bisa dilacak pada awal     Ketiga, gelombang
           abad ke-20, ketika media cetak (majalah, koran, dan buku keislaman) mulai      akselerasi ortodoksi
           diperkenalkan  ke  khalayak  publik  Islam  Indonesia.  Di  samping  para  ulama—  khususnya melalui
           yang secara tradisional telah lama berperan sebagai pemegang tunggal otoritas   “proses ortodoksi fiqh”.
                                                                                          Keempat, gelombang
           keagamaan—kaum Muslim sejak awal abad itu memiliki media cetak sebagai         modernisme dengan
           sumber pengetahuan keislaman dan akhirnya praktik keagamaan mereka.           intelektualitas bercorak
           Difasilitasi oleh teknologi percetakan kolonial, kaum Muslim reformis pada awal   politis dan pan-Islamis,
           abad ke-20 menjadikan penerbitan media cetak sebagai salah satu komponen      dan kelima, gelombang
           terdepan gerakan reformasi Islam—di samping pembaharuan sistem pendidikan        neo-modernisme
                                                                                             kontemporer.
           dan pemikiran keagamaan. Proses ini melahirkan tidak saja wajah baru Islam,
           Islam reformis, tapi juga memperlihatkan suatu karakteristik yang secara tegas










                                                                                                  7
   18   19   20   21   22   23   24   25   26   27   28