Page 240 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 240
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Pendirian berbagai ormas itu banyak berkaitan dengan upaya mencerdaskan
bangsa secara umum. Ketika masyarakat Indonesia tidak bisa masuk dalam
pendidikan yang disediakan oleh Belanda karena memang hanya dikhususkan
bagi priyayi dan orang kaya, maka NU, Muhammadiyah, Jamiat Khair, Al-Irsyad,
dan ormas-ormas Islam yang lain memberikan pendidikan kepada masyarakat
secara luas. Banyak dari ormas-ormas itu juga berdiri dalam konteks perjuangan
kemerdekaan Indonesia. Bahwa bangsa ini perlu dibangkitkan semangat
perjuangannya untuk membebaskan diri dari penjajahan dan menyatukan
wilayah Indonesia. Karena itu, deskripsi yang dilakukan dalam tulisan ini
didasarkan pada sejarah dan karakteristik dari ormas-ormas tersebut.
Ormas Reformis dan Tradisionalis
Definisi reformis dan tradisionalis dalam tulisan ini mengacu kepada sikap
berbagai ormas terhadap berbagai tradisi dan ritual keagamaan yang telah
lama berkembang di Indonesia namun dianggap tidak memiliki dukungan dalil
dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad. Termasuk dalam tradisi dan ritual
keagamaan yang dipertentangkan di sini adalah tawasul, tahlilan, slametan,
ziarah kubur, dan mengikuti secara ketat empat mazhab fiqh dalam tradisi Sunni.
Ormas reformis adalah mereka yang menentang dan berusaha mereformasi
berbagai tradisi dan ritual itu, sementara yang dimaksud ormas tradisionalis
adalah kelompok yang berusaha mempertahankan atau melestarikan tradisi
dan ritual keagamaan yang telah lama berkembang di Indonesia.
Ada istilah lain yang kadang dipakai untuk menjelaskan dua mainstream Islam
di Indonesia, yaitu ormas modernis dan ormas tradisionalis. Penggunaan istilah
modernis ini mengacu kepada beberapa hal, diantaranya sistem pendidikan
dan organisasi. Dalam pendidikan di kelompok Islam modernis dipakai sistem
berkelas dan buku-buku yang dipakai bukan berasal dari karya klasik Islam. Ormas
modernis juga menggunakan sistem organisasi modern dengan menekankan
bukan pada otoritas tradisional seperti yang dimiliki oleh kyai, tapi otoritas
legal berdasarkan pemilihan pimpinan secara rutin. Pendidikan pada ormas
Islam tradisionalis bbanyak berupa pendidikan pesantren dan menggunakan
kitab kuning. Namun perbedaan itu kini menjadi semakin cair. Ormas Islam
224

