Page 245 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 245
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
memiliki distribusi luas adalah Pembela Islam, Al-Fatwa, Al-Muslimun, dan Al-
Lisan. Tanya-jawab soal agama Islam yang dimuat dalam Pembela Islam dengan
judul rubrik “Sual-Tjawab” diterbitkan menjadi buku dan tersebar luar hingga
ke berbagai manca negara.
Ormas Tradisionalis
Ormas Islam terbesar yang bercorak tradisionalis adalah Nahdlatul Ulama (NU).
Secara keanggotaan dan simpatisan, NU merupakan ormas terbesar di Indonesia
dengan jumlah anggota mencapai 40 juta orang. Namun demikian, hampir
seluruh anggotanya terpusat di Jawa, terutama Jawa Timur.
NU didirikan pada 31 Januri 1926 di Surabaya oleh beberapa ulama seperti KH
Bisri Sansuri (Denanyar, Jombang), KH Abdul Wahab Hasbullah (Tambakberas,
Jombang), dan KH Hasyim Asy’ari (Tebuireng, Jombang). Sejarah pendiriannya
tidak bisa dilepaskan dari berbagai faktor, diantaranya adalah berdirinya
ormas reformis seperti Muhammadiyah dan Persis yang kadang dilihat sebagai
ancaman terhadap keberadaan tradisi Islam di Indonesia. Faktor lain yang secara
langsung menjadi pemecut dari kelahiran NU adalah factor internasional yang
berupa kemenangan Ibnu Sa’ud dan Wahabi di Saudi Arabia dan rencana
mereka untuk melarang berbagai tradisi keagamaan, seperti tasawuf, tarekat,
dan ziarah kubur, yang ketika itu berkembang di Mekah. Ketika itu, umat
Islam Indonesia mendapat undangan dari pemerintah Saudi untuk menghadiri KH. Bisri Sansuri pendiri Pondok
Kongres Khilafah, namun tidak ada perwakilan dari kelompok tradisionalis dalam Pesantren Denanyar Jombang
adalah salah satu pendiri NU.
delegasi Indonesia. Bagi ulama tradisional, keterwakilan mereka dalam delegasi Sumber: Ensiklopedia Nahdatul ULama:
sangat penting mengingat mereka ingin Ibn Sa’ud tak melarang Sejarah Tokoh dan Khasanah Pesantren.
berbagai praktek keagamaan tradisional. Karena kekecewaan
itu, KH Wahab Hasbullah, dengan restu dari KH Hasyim Asy’ari,
mendirikan Komite Hijaz. Komite inilah yang menjadi cikal bakal
dari NU dan tanggal pendirian Komite ini dipakai sebagai tanggal
kelahiran NU (Bruinessen 2009, Bush 2002).
Berbeda dari Muhammadiyah yang lebih mencerminkan organisasi
modern, ormas NU masih sering tampak seperti perkumpulan bagi
kiai-kiai pesantren yang otonom dan independen. Meskipun para
kiai bergabung ddalam tubuh organisasi NU, namun pengelolaan
pesantren tidak dikontrol oleh NU dan menjadi kewenangan kiai
yang sejak lama mengelola pesantren itu. Istilah yang sering
dipakai untuk menggambarkan pengelolaan ormas NU adalah
franchising, seperti yang berlaku di McDonald dan KFC. Dan ada
ribuan ribuan pesantren di Indonesia yang berafiliasi dengan NU,
baik secara kultural maupun secara organisasi.Yang terbanyak
tentu saja ada di Jawa Timur.
229

