Page 250 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 250
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Secara ideologis, NW sangat dekat dengan NU dan TG Zainuddin Abdul Madjid
sendiri merupakan ketua NU di Lombok sebelum dia mendirikan NW (Mahdi
dan Smith 2012, 32). Sejarah pendirian NW dan terpisahnya TG Zainuddin dari
NU berkaitan erat dengan perpolitikan nasional pada tahun 1950an. Ketika
NU memisahkan dari dari Masyumi dan mendirikan partai baru pada tahun
1953, TG Zainuddin tetap memilih bergabung dengan Masyumi. Keputusannya
ini bahkan berkembang dengan pendirian ormas baru yang terpisah dari NU
dengan nama Nahdlatul Wathan (NW) (Aniq 2011, 71 dan 74).
Sejarah kedekatan NW dan NU itu masih bisa dilihat dari asas dari organisasi
ini yang juga mirip dengan NU, yaitu “Islam Ahlus Sunnah wa al jamaah bi
madzhabi Ash-Shafiii” (Khudrin 1992, 20). Namun demikian, dari jenis kegiatan
atau amal usahanya, NW banyak menyerupai aktivitas Muhammadiyah dengan
mendirikan lembaga-lembaga pendidikan dari tingkat TK (Taman Kanak-kanak)
hingga perguruan tinggi, mendirikan panti asuhan, dan melakukan kegiatan
dakwah. Saat ini jumlah lembaga pendidikan di bawah naungan NW berjumlah
lebih dari 600 madrasah dan pesantren yang tersebar terutama di NTB (Aniq
2011, 62; Hamdi dan Smith 2012, 33). Selain lembaga pendidikan, NW juga
aktif dalam kegiatan yang secara khusus menangani dakwah atau penyebaran
agama Islam.
Pendirian NW dimulai dengan pendirian Pondok Pesantren Al-Mujahidin pada
tahun 1935, Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) pada 17
Agustus 1937 dan Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) pada
21 April 1943 (Aniq 2011, 47 dan 60). Dari tiga lembaga inilah lantas muncul
berbagai lembaga pendidikan dibawah NW yang didirikan oleh alumni dari
madrasah tersebut atau orang yang ingin berafiliasi dengan NW.
Selain NW, ormas Islam lokal yang cukup berpengaruh adalah PUSA (Persatuan
Ulama Seluruh Aceh). Sama seperti NU, meski nama dari ormas ini adalah
persatuan ulama, namun ia terbuka kepada semua orang Islam. PUSA berdiri
pada 5 Mei 1939 dan yang terpilih menjadi ketua pertamanya adalah Teungku
Muhammad Daud Beureueh dari Pidie. Daud Beureuh adalah tokoh dalam
revolusi kemerdekaan Indonesia dan aktif dalam perjuangan pada masa
pendudukan Jepang. Diantaranya karena pengaruh Beureuh, PUSA secara
tegas menyatakan dukungannya terhadap Negara Indonesia dan setia berdiri
di belakang Sukarno (Aspinal 2007, 249). Namun demikian, pada tahun 1953
Beureuh memimpin pemberontakan melawan pemerintahan Indonesia dan
mendeklarasikan Aceh sebagai Negara Islam. Pemberontakan itu dilatari oleh
kekecewaan ulama dan masyarakat Aceh atas janji pemerintah pusat untuk
memberikan tempat utama kepada Islam di Aceh. Alih-alih memenuhi janji,
Aceh bahkan dijadikan bagian dari propinsi Sumatra Utara. Pemberontakan ini
berakhir pada tahun 1957 setelah memakan korban jiwa yang cukup banyak.
Untuk mengakhiri perlawanan dari Aceh, Presiden Sukarno lantas menjadikan
234

