Page 254 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 254
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
didasarkan pada studi tentang kelompok Tionghoa Muslim di Malaysia dan dia
tidak memiliki data yang kuat tentang fenomena Tionghoa Muslim di Indonesia.
Singkatnya, satu hal yang unik dari keberadaan PITI di masyarakat adalah
kombinasi tiga identitas secara bersamaan dalam organisasi ini, yaitu ke-Islaman,
ke-Chinaan, dan ke-Indonesiaan. Kombinasi ini sering muncul dalam kegiatan
mereka, dalam arsitektur masjid, dan dalam kesenian yang mereka tampilkan.
Dan organisasi ini menekankan bahwa ketiga identitas itu bisa menyatu. Gambar
Cheng Ho di depan Masjid Cheng Ho di Surabaya dianggap sebagai representasi
dan simbol kompatibilitas dari tiga identitas itu (Dickson 2008, 35-38).
Jika komunitas Tionghoa kadang mengalami kesulitan dalam berasimilasi
di Indonesia, tidak demikian halnya dengan komunitas Arab. Ini diantaranya
karena hampir semua orang orang yang ada di Indonesia adalah Muslim. Meski
orang Arab bisa berasimilasi dengan mudah, namun ada beberapa ormas dari
etnis Arab atau didominasi oleh etnis Arab di Indonesia. Dua diantaranya yang
terbesar adalah Jam’iyyat al-Khayr atau Jamiat Kheir dan Jam’iyyat al-Irshad atau
sering disebut Al-Irsyad saja.
Jamiat Kheir didirikan di Jakarta pada 17 Juli 1905. Diantara pendiri ormas
ini adalah Sayyid Muhammad al-Fachir bin Abdurrahman al-Masyhur, Sayyid
Muhammad bin Abdullah bin Syihab, Sayyid Idrus bin Ahmad bin Syihab,
dan Sayyid Syehan bin Syihab. Keanggotaan dari organisasi ini sebetulnya
Sayyid Idrus bin Ahmad bin Syihab Sayyid Muhammad bin Abdullah bin Syihab
Sumber: Dokumentasi Yayasan Jamiat Kheir Sumber: Dokumentasi Yayasan Jamiat Kheir
238

