Page 256 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 256

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3




































           Yayasan Pendidikan Islam Jamiat
           Kheir, Tanah Abang, Jakarta Pusat
           Sumber: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.


                                    pesantren As-Syafi’iyyah, KH Ahmad Thohir Rohili, pendiri pondok pesantren
                                    At-Thahiriyyah, dan KH Abdul Manaf, pendiri pondok pesantren Darun-Najah.
                                    Ketiga pesantren besar itu ada di Jakarta. Bahkan KH Ahmad Dahlan, pendiri
                                    Muhammadiyah, HOS Tjokroaminoto, pendiri Sarekat Islam (SI), dan R. Hassan
                                    Djdjadiningrat, saudara Bupati Serang pada masa kolonial, juga pernah menjadi
                                    anggota dari Jamiat Kheir meski tidak aktif (Abdullah 2008, 54; Noer 1963, 90).
                                    Seperti dicatat oleh Deliar Noer, kontribusi terpenting dari Jamiat Kheir adalah
                                    perannya dalam memperkenalkan bentuk organisasi modern dengan pertemuan
                                    rutin, pendaftaran keanggotaan, dan memiliki Anggaran Dasar. Kontribusinya
                                    yang lain adalah dalam memperkenalkan sistem pendidikan modern dengan
                                    sistem penilaian, sistem kelas, kurikulum, dan penggunaaan meja belajar (Noer
                                    1963, 95). Salah satu yang menghambat perkembangan Jamiat Kheir adalah
                                    kecenderungannya untuk mempertahankan pandangan tentang superioritas
                                    sayyid (keturunan Nabi) dibandingkan dengan umat Islam yang lain. Ini pula
                                    yang menjadi salah satu alasan keluarnya Ahmad Surkati dari Jamiat Kheir dan
                                    ikut mendirikan ormas baru yang bernama Al-Irsyad.


                                    Al-Irsyad didirikan pada 11 Agustus 1915 diantaranya sebagai kritik terhadap
                                    model keberagamaan Jamiat Kheir. Pendiri dari ormasi ini diantaranya adalah
                                    Sjech Umar Manggus, Saleh bin Ubeid Abdad, Said bin Salim Masjhabi, Salim
                                    bin  Umar  Balfas,  Abdullah  Harharah,  dan  Umar  bin  Saleh  bin  Nahdi  (Noer
                                    1963, 98). Misi dari organisasi ini salah satunya adalah menghilangkan adanya
                                    stratifikasi atau pengkelasan sosial berdasarkan pada keturunan, harta, dan





                    240
   251   252   253   254   255   256   257   258   259   260   261