Page 251 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 251

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           Aceh  sebagai  propinsi  tersendiri.  Dua  tahun  kemudian  atau  tahun  1959,
           status Aceh ditingkatkan menjadi “Daerah Istimiwa”. Inilah diantaranya yang
           menyebabkan Daud Beureuh mengakhiri pemberontakannya pada tahun 1962
           (Sulistiyanto 2001, 439; Feener 2011, 17-18).

           Selain persoalan politik yang berkaitan dengan identitas keislaman Aceh,
           PUSA juga berperan dalam mengurangi peran dari aristokrasi (ulebalang) dan
           member peran yang lebih dominan kepada ulama di Aceh. Meski pada saat
           pendiriannya PUSA didukung oleh ulebalang, namun sikap mereka yang anti-
           ulebalang ditunjukkan sealur dengan sikap mereka yang anti-penjajahan. Bagi
           PUSA, ulebalang sering lebih mementingkan kekuasaannya daripada Islam dan
           mereka juga kurang mendukung upaya reformasi Islam (Salim 2004, 85; Feener
           2011, 17).


           Di luar persoalan politik, misi utama dari PUSA sebetulnya adalah untuk
           meneguhkan kejayaan Islam, terutama di Aceh, tempat yang pada masa
           kejayaannya dulu disebut Serambi Mekah. Upaya itu dilakukan diantaranya
           dengan mempersatukan ulama se-Aceh dan melakukan pembaruan sistem
           pendidikan  di  Aceh  dengan  mengganti  system  tradisional  (dayah)  ke  sistem
           yang  lebih  modern  (madrasah),  mereformasi  kurikulum  madrasah,  dan
           memberikan pendidikan bagi guru-guru madrasah. Dalam konteks kurikulum
           madrasah, PUSA, misalnya, memasukkan mata pelajaran sekuler sebagai
           tambahan terhadap mata pelajaran agama. Dalam konteks pendidikan guru,
           PUSA mendirikan sekolah bagi guru-guru madrasah yang dinamakan Normal
           Islam  Instituut  (Latif  1992).  PUSA  bisa  dikategorikan  sebagai  ormas  reformis
           yang berbeda dari Muhammadiyah dan Persis. Karakter lokal dari ormas ini    Lambang Organisasi Persauan
                                                                                       Islam Tionghoa (PITI). PITI baru
           sangat kentara diantaranya dengan tekanannya pada upaya mengembalikan       berdiri kembali secara resmi para
           Aceh sebagai Serambi Mekah.                                                 14 April 1961
                                                                                       Sumber: Direkorat Sejarah dan Nilai Sejarah
           Selain ormas lokal, terdapat beberapa ormas Islam dari etnis
           tertentu, seperti Tionghoa dan Arab. Ormas Islam dari etnis
           Tionghoa  yang  terkenal  adalah  PITI  (Persatuan  Islam  Tionghoa
           Indonesia). Pada awalnya ormas ini merupakan gabungan dari
           dua  ormas,  yaitu:  Persatuan  Islam  Tionghoa  (PIT)  yang  berada
           di Deli Serdang, Sumatra Utara yang berdiri tahun 1936 dan
           dipimpin H. Abdusomad Yap Siong dan Persatuan Tionghoa
           Muslim (PTM) di Jakarta yang dipimpin oleh Kho Guan Tjin. Atas
           ajakan H. Abdul Karim Oei Tjeng Hien, kedua organisasi itu pada
           tahun 1954 dilebur menjadi satu dan diberi nama PITI. Namun
           demikian, organisasi ini tidak berjalan seperti yang diharapkan.
           Atas inisiatif dari H. Isa Idris dari Pusat Rohani TNI AD (Tentara
           Nasional  Indonesia  Angkatan  Darat),  PITI  baru  berdiri  kembali
           secara resmi para 14 April 1961 (Wahyudi 2010, 1-2; Tanudjaja
           tt.).






                                                                                                 235
   246   247   248   249   250   251   252   253   254   255   256