Page 253 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 253

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           bimbingan dalam menjalankan syariah Islam di lingkungan keluarganya yang
           masih non muslim dan persiapan berbaur dengan umat Islam di lingkungan
           tempat tinggal dan pekerjaannya serta pembelaan/perlindungan bagi mereka
           yang karena masuk Islam, untuk sementara bermasalah dengan keluarga dan
           lingkungannya” (Tanudjaja tt.; Mahfud 2013, 294). Seperti ditulis Choirul Mahfud
           (2013, 292), program dari PITI sebetulnya tidak hanya berupa dakwah mengajak
           orang Tionghoa masuk Islam, tapi kadang berupa pelurusan kesalahpahaman di
           kalangan masyarakat Tionghoa tentang Islam. Misalnya anggapan bahwa Islam
           mengajarkan pemeluknya menjadi miskin dan bodoh.


           Tentang jumlah orang Tionghoa di Indonesia, hingga saat ini tidak ada data yang
           pasti. Namun diperkirakan jumlah penduduk dari etnik ini antara dua sampai lima
           juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sekitar satu persen merupakan Tionghoa Muslim
           (Jacobsen 205, 71; Mahfud 2013, 291). Jumlah komunitas Tionghoa Muslim
           semakin berkembang sejak Era Reformasi yang ditandai dengan runtuhnya
           Orde Baru pada 1998. Sebelum Era Reformasi, komunitas Tionghoa cenderung
           eksklusif dan berada dibawah patronase aparat pemerintah. Setelah Reformasi,
           mereka menjadi lebih banyak berinteraksi dengan masyarakat dan mengenal
           Islam lebih baik (Mahfud 2013, 293-294; Dickson 2008, 37). Perkembangan
           Tionghoa Muslim di Surabaya, misalnya, ditandai dengan pembangunan Masjid
           Cheng Ho pada tahun 2002.  Seperti dilaporkan Komunitas, terbitan berkala
                                       3
           PITI  Surabaya,  hampir  tiap  minggu  terdapat  orang  dari etnis  Tionghoa  yang
           masuk Islam di Masjid Cheng Ho itu. Kegiatan kultural dan pernikahan dengan
           nuansa China juga diadakan secara terbuka di masjid ini.


           Ada tiga tujuan dari pendirian PITI; pertama adalah mempersatukan umat
           Islam keturunan Tionghoa dan umat Islam Indonesia yang lain. Kedua adalah
           mempersatukan Muslim Tionghoa dengan masyarakat dari etnis Tionghoa. Ketiga
           adalah mempersatukan masyarakat dari etnis Tionghoa dengan masyarakat
           Indonesia dari etnis lain (Wahyudi 2010, 2). Tujuan-tujuan itu berkaitan dengan
           anggapan yang berkembang bahwa orang Tionghoa itu banyak yang belum
           diterima sepenuhnya sebagai warga negara Indonesia. Dalam bahasa Michael
           Jacobsen  (2005,  87),  kelompok  Tionghoa  di  Indonesia  adalah  bagian  dari
           “redundant legacy of history” (warisan sejarah yang membingungkan) karena
           sebagian dari mereka datang ke Indonesia dibawa oleh penjajah Belanda dan
           menduduki posisi antara penjajah yang Kristen dan pribumi yang Muslim.
           Karena itu, hanya dengan menjadi Muslim, dalam keyakinan sebagian orang,
           orang Tionghoa bisa berasimilasi dengan cepat dan bisa diterima menjadi warga
           Indonesia dengan sepenuh hati (Giblin 2003, 361; Muzakki 2010, 90). Namun
           demikian, Micael Jacobsen (2005, 82) justru melihat hal yang sebaliknya. Bahwa
           kelompok Tionghoa Muslim itu berada pada posisi yang tidak mengenakkan.
           Mereka itu seperti berada di buffer zone; mereka tidak bisa terintegrasi secara
           penuh di kelompok China dan di kelompok Muslim sekaligus, mereka tidak
           disukai oleh berbagai kelompok di luar diri mereka. Pandangan Jacobson itu
           dikritik oleh Anne Louise Dickson (2008, 31) karena kesimpulan Jacobsen itu





                                                                                                 237
   248   249   250   251   252   253   254   255   256   257   258