Page 248 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 248

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3

































           Lambang Nahdatul Ulama
           Sumber: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.




                                    dasar hokum ini yang membuat NU bisa mengadopsi tradisi keagamaan di
                                    Jawa. Meski NU mengikuti empat mazhab, dalam prakteknya orang NU banyak
                                    mengikuti pandangan dari Syafii saja, atau lebih tepatnya pandangan fiqh
                                    Syafiiyyah. Dalam hal kalam dan teologi, NU mengikuti pandangan dari Abu al-
                                    Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi, atau lebih tepatnya NU mengikuti
                                    pandangan kalam versi Asy’ariyah dan Maturidiyah dan tak setuju dengan model
                                    kalam ala Jabariyah dan Qodariyah (serta Mu’tazilah). Dalam hal ini, NU memilih
                                    keseimbangan antara penggunaan akal dan wahyu. Dalam hal tasawwuf, NU
                                    banyak mengikuti pandangan yang dikembangkan oleh Al-Ghazali dan Junaid
                                    al-Baghdadi. Tasawuf model ini mencoba meninggalkan tasawuf falsafi seperti
                                    yang dikembangkan Ibn ‘Arabi, namun juga tak menyetujui pemahaman
                                    tasawuf ala Ibnu Taimiyah dan Ibn Qayyim al-Jawziyah yang dianggap terlalu
                                    kaku (Burhani 2012, 572-574).


                                    Dalam kaitannya dengan persoalan hukum/fiqh, NU memiliki lembaga
                                    yang disebut dengan  Lajnah  Bahtsul Masail. Dulu,cara berpikir  dari
                                    lajnah ini sering disebut terbelakang dan tak berkembang. Namun pada
                                    dekade belakangan ini, lajnah Bahtsul Masail bergerak sangat progresif
                                    dan berani membahas atau menawarkan solusi fiqh terhadap berbagai
                                    persoalan kontemporer, seperti persoalan hak asasi manusia, perempuan,
                                    dan lingkungan hidup (Effendi 2008). Salah satu yang terpenting dalam
                                    perubahan pandangan fiqh NU adalah perubahan dalam menggunakan
                                    buku-buku fiqh sebagai sumber hokum secara qouli (mengutip secara
                                    harfiah) menjadi mendekati secara manhaji (metodologis) (Hosen 2004,
                                    14).





                    232
   243   244   245   246   247   248   249   250   251   252   253