Page 244 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 244

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3


































           Kantor Pimpinan Pusat Persatuan
           Islam (Persis) Bandung.
           Sumber: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.




                                    hidup dalam “dunia ideologi daripada dunia praktis” . Lebih lanjut, Federspiel
                                    (2001, 88-89) mengungkapkan bahwa reputasi Persis itu lebih dikenal sebagai
                                    organisasi yang menekankan bahwa Islam harus menjadi pusat seluruh gerak
                                    kehidupan dan, dibandingkan dengan Muhammadiyah, organisasi ini kurang
                                    berhasil dalam kaitannya dengan pengembangan pendidikan dan organisasi.

                                    Persis didirikan di Bandung oleh Haji Zamzam dan Muhammad Yunus pada 12
                                    September 1923, namun Persis baru kokoh menjadi ormas pada tahun 1930an
                                    (Federspiel 2001, 87). Dua orang tersebut merupakan pedagang dari Sumatra,
                                    namun mereka lebih diidentifikasi sebagai orang Sunda. Sebagaimana tercatat
                                    dalam Anggaran Dasar dari Persis, tujuan dari organisasi ini adalah memajukan
                                    Islam dengan berdasarkan pada Al-Qur’an dan Hadith. Dalam konteks pemikiran
                                    dan ideologi, tokoh yang dikenal sebagai ideology dari organisasi ini adalah
                                    Ahmad Hassan, seorang pedagang dan guru agama keturunan Arab-Tamil yang
                                    lahir di Singapura. Persis memiliki pengaruh cukup kuat di Jawa Barat dengan
                                    kantor pusatnya di Bandung. Selain itu, Persis juga memiliki pengaruh kuat
                                    di Bangil, Pasuruan. Di luar negeri, pengaruh Persis masuk ke Singapura dan
                                    Malaysia. Diantara tokoh Persis yang kemudian menjadi tokoh nasional adalah
                                    Muhamad Natsir (1908-1993), Perdana Menteri Indonesia tahun 1950-1951.

                                    Salah satu kontribusi terbesar dari Persis dalam kebangkitan Islam di Indonesia
                                    adalah melalui dunia penerbitan. Ormas ini pada dekade awal sejarahnya sangat
                                    aktif menerbitkan jurnal dan majalah serta menyebarkan pandangan mereka
                                    melalui media tersebut. Diantara terbitan berkala dari Persis yang terkenal dan





                    228
   239   240   241   242   243   244   245   246   247   248   249