Page 247 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 247
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
NU terus berperan aktif sebagai partai politik sampai pemerintah Orde Baru
dibawah Suharto memaksa partai-partai Islam (NU, Parmusi, PSII, dan Perti)
melakukan fusi dalam PPP (Partai Persatuan Pembangunan) pada tahun 1973.
NU terus menjadi elemen dalam PPP sampai Muktamar NU di Situbondo tahun
1984 ketika organisasi ini memutuskan untuk kembali ke Khittah 1926 dengan
mengembalikan peran utama NU sebagai organisasi social keagamaan. Setelah
reformasi 1998, NU kembali terlibat aktif dalam politik dengan mendirikan PKB
(Partai Kebangkitan Bangsa. Bedanya, jika dulu NU melakukan transformasi
secara utuh menjadi partai politik, kini PKB merupakan partai yang kelahirannya
dibidani oleh NU dan didominasi oleh orang-orang NU, namun secara organisasi
ia terpisah dari NU sebagai ormas.
Dalam kaitannya dengan peran NU sebagai ormas, jika Muhammadiyah dikenal
dengan tiga aktivitasnya (healing, schooling, dan feeding), NU juga banyak
dikenal dalam tiga hal, yaitu: kyai, pesantren, dan kitab kuning. Kiai menjadi
penggerak dan pengontrol ormas NU dan juga pesantren-pesantren di NU. Dalam
NU, sebagaimana dikemukakan van Bruinessen (2009), kiai dan keluarganya
menduduki kasta tertinggi dalam hubungan sosial warga NU. Dan di kalangan
kiai juga terdapat hierarkhi dengan kiai di tiga pesantren di Jombang (Tebuireng,
Tambakberas, dan Denanyar) menempati hirarkhi tertinggi (h. 137-140).
Pesantren merupakan sistem pendidikan tradisional yang menekankan pada
pengajaran agama. Sementara kitab kuning adalah sebutan terhadap buku-
buku yang dipelajari di pesantren-pesantren milik NU. Disebut kitab kuning
karena warna kertas dari kebanyakan buku-buku yang dipakai itu adalah kuning.
Namun secara istilah, kitab kuning mengacu kepada buku-buku keagamaan
klasik/kuno yang menjadi pedoman/pegangan dalam pelajaran agama di
pesantren-pesantren tradisional. Tiga elemen itulah yang menjadi darah dan
nafas dari NU. Pesantren NU tersebar hampir di seluruh propinsi di Indonesia.
Namun demikian, propinsi dengan jumlah pesantren NU terbanyak adalah
Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Kalimantan Selatan. Di tiga propinsi itulah NU
memiliki jumlah massa terbesar (Bruinessen 2009, 136). Ulama NU juga berasal
dari berbagai suku, namun ulama dari Jawa adalah yang mendominasi secara
kuantitas dan pengaruh.
Pandangan keagamaan NU yang diajarkan di seluruh pesantren mengikuti
paham ahlus sunnah wal jamaah yang dalam lingkungan Nahdliyyin sering
disingkat menjadi Aswaja. Aswaja NU memiliki beberapa karakter yang unik.
Menurut KH Achmad Siddiq (1985; 2005), ada tiga karakteristik dari aswaja NU,
yaitu: al-tawassut (moderat), al-i’tidal (adil), dan al-tawazun (keseimbangan).
Tiga karakteristik itu memiliki makna yang berbeda ketika diterjemahkan dalam
aspek fiqh, kalam, dan tasawuf. Dalam hal fiqh, meski NU mengikuti pandangan
dari empat madzhab (Syafii, Hambali, Maliki, dan Hanafi) yang dianggap paling
toleran dalam memberikan ketetapan hukum. Dasar pengambilan hukum
keempat mazhab itu adalah wahyu, akal, dan adat. Penggunaan adat sebagai
231

