Page 252 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 252

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3

































           Gedung Dewan Pimpinan
           Pusat Persatuan Islam Tionghoa
           Indonesia, Kwitang, Jakarta.
           Sumber: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.




                                    Setelah pemberontakan G30S/PKI, pemerintah menggalakkan persatuan
                                    dan kesatuan bangsa, diantaranya dengan melarang berbagai simbol dan
                                    identitas yang menghambat pembauran. Organisasi yang dianggap pemerintah
                                    menghambat proses pembauran ini dilarang berdiri oleh pemerintah. PITI
                                    dianggap masuk kategori organisasi jenis itu. Karena itu untuk mensiasati
                                    persoalan ini maka pada 15 Desember 1972 kepanjangan dari PITI diubah
                                    menjadi Pembina Iman Tauhid Islam. Setelah Orde baru runtuh atau tepatnya
                                    pada Muktamar Millenium pada bulan Mei 2000, kepanjangan dari akronim
                                    PITI dikembalikan ke aslinya, yaitu Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, namun
                                    kepanjangan PITI yang lahir pada masa Orde Baru tetap juga dipertahankan.
                                    Jadilah PITI saat ini memiliki dua arti yang sama-sama sahnya (Giblin 2003, 360;
                                    Wahyudi 2010, 3).

                                    Menurut Syarif Tanuwidjaja, pendirian PITI ini diantaranya atas saran dari
                                    pimpinan Muhammadiyah ketika itu yang menganggap bahwa dakwah dan
                                    tabligh ke etnis Tionghoa harus dilakukan oleh orang Islam dari etnis itu agar
                                                2
                                    lebih efektif.  Saran dari pimpinaan Muhammadiyah ini sangat mungkin terjadi
                                    mengingat ada kedekatan antara orang-orang Tionghoa Muslim, semisal Karim
                                    Oei, dengan organisasi Muhammadiyah dan pada awalnya PITI memang erat
                                    bekerjasama dengan Muhammadiyah (Tanudjaja tt.; Giblin 2003, 360). Karena
                                    kesulitan dakwah ke komunitas Tionghoa  itulah, maka tak mengejutkan
                                    bisa kegiatan utama dari ormas ini adalah: “menyampaikan dakwah Islam
                                    khususnya kepada masyarakat Tionghoa dengan pembinaan dalam bentuk






                    236
   247   248   249   250   251   252   253   254   255   256   257