Page 257 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 257
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Dewan Pimpinan Pusat
PerhimpunanAl-Irsyad, Jakara.
Sumber: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.
status. Al-Irsyad menolak pengkultusan dan penempatan sayyid di atas non-
sayyid (Jacobson 2009, 22). Al-Irsyad juga menolak tradisi taqbil (cium tangan)
oleh non-sayyid bila bertemu dengan sayyid. Dalam konteks pernikahan, Al-
Irsyad juga menentang konsep kafa’a (larangan menikah bagi anak perempuan
seorang sayyid dengan non-sayyid, atau prinsip kesejajaran status kelahiran
dalam pernikahan). Pendeknya, Al-Irsyad ingin mengganti supremasi sayyid
dalam hirakhi sosial dengan ajaran yang mengedepankan egalitarianism.
Tokoh agama terpenting dalam ormas ini tentu saja adalah Ahmad Surkati,
seorang ulama dari Sudan yang datang ke Indonesia tahun tahun 1911 atas
undangan dari Jamiat Kheir (Affandi 1976). Salah satu tindakan terkenal dari
Surkati dalam kaitannya dengan persoalan sayyid-non-sayyid adalah ketika
ia menyatakan bahwa perkawinan seorang habib dengan orang Islam biasa
itu adalah sah. Pernyataan ini mendapat banyak penentangan dari berbagai
komunitas Arab di Indonesia. Ajaran kesetaraan yang dikembangkan oleh
Al-Irsyad juga dianggap oleh komunitas sayyid sebagai ancaman terhadap
prestige mereka di masyarakat, yang dalam kepanjangannya bisa mengancam
keuntungan materi yang bisa mereka peroleh dengan prestige itu (Noer 1963,
95).
Berbeda dari Jamiat Kheir yang dekat dengan Islam tradisionalis, Al-Irsyad
termasuk ormas modernis dan reformis karena memiliki banyak lembaga
pendidikan dan lembaga kesehatan modern di berbagai tempat di Indonesia dan
241

