Page 259 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 259

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           Merdeka, Bandung, Jawa Barat. Ketua Umum pertama dari IJABI adalah Dimitri
           Mahayana,  dosen  di  ITB  (Institut  Teknologi  Bandung),  sementara  Jalaluddin
           Rakhmat menjadi ketua dewan penasehat.

           Berbeda dari Syiah di Iran yang terlibat penuh dalam urusan politik, IJABI memilih
           untuk menjadi organisasi sosial keagamaan yang tak mau ikut serta dalam
           urusan politik (Zulkifli 2013, 207). IJABI bahkan lebih menekankan pada aspek
           akhlak, moralitas, dan sufisme daripada fiqh. Bahkan, beberapa pimpinannya,
           seperti Jalaluddin Rakhmat, sering menyampaikan pandangan yang kritis
           terhadap Islam yang menekankan pada aspek fiqh dan menentang konsep
           wilayat al-faqih. Di samping itu, meski IJABI secara ideologi adalah ormas Syiah,
           namun kegiatannya terbuka bagi umat Islam lain dan dalam kepengurusannya
           melibatkan  orang-orang  non-Syiah  seperti  KH  Muchtar  Adam  (Zulkifli  2013,
           204).

           Dalam studinya, Zulkifli (2013, 217) menyebutkan bahwa tak semua pengikut
           Syiah di Indonesia bergabung dalam IJABI. Sebagian dari mereka sering
           diidentifikasi sebagai “non-IJABI” Syiah dan sebagian yang lain lagi memilih
           untuk tidak bergabung dalam kedua kubu tersebut atau berusaha menjembatani
           konflik antara kedua kelompok tersebut. Kelompok non-IJABI didominasi oleh
           para Ustadz alumni hawza ‘ilmiyya di Qum dan mayoritas berasal dari kalangan
           sayyid, seperti Ahmad Baragbah dan Zainal Abidin al-Muhdar. Untuk lembaga,
           beberapa yang menentang IJABI sebagai ormas yang memayungi pengikut
           Syiah di Indonesia diantaranya adalah Madinatul Ilmi di Jakarta, Al-Jawad di
           Bandung dan Al-Hadi di Pekalongan (Zulkifli 2013, 226). Beberapa orang dalam
           kelompok non-IJABI ini memiliki ormas Syiah lain, diantaranya adalah KIBLAT
           (Komunitas Ahlul Bait Jawa Barat), WASIAT di Jawa Tengah dan FAJAR (Forum
           Jamaah Ahlul Bait Jawa Timur). Berbeda dari IJABI, kelompok ini menekankan
           pada aspek fiqh dari Syiah. Secara ringkas, Zulkifli (2013, 219) merumuskan
           perbedaan antara IJABI dan non-IJABI dalam dua hal: pertama, kelompok
           keturunan Arab vs. kelompok kampus, dan kedua, ustadz vs. intelektual. Di luar
           dari dua kelompok itu, banyak pengikut Syiah di Indonesia yang memilih untuk
           tak bergabung dalam dua kubu, diantaranya adalah Haidar Bagir.


           Selain Syiah, ormas keagamaan non-mainstream yang cukup besar adalah
           Ahmadiyah. Sama seperti Syiah, sebagai paham dan gerakan keagamaan
           Ahmadiyah tidaklah lahir di bumi Indonesia. Ormas ini didirikan di India
           oleh Mirza Ghulam Ahmad pada 1889. Salah satu keunikan dari gerakan ini
           adalah  penentangannya  terhadap  jihad  bi  al-saif  (jihad  dengan  pedang)  dan
           menggantinya dengan jihad bi al-qalam (jihad dengan pena). Selain itu, gerakan
           ini juga mengajarkan bahwa Imam Mahdi dan Al-Masih yang ditunggu-tunggu
           kehadirannya oleh umat Islam pada akhir zaman itu telah datang ke dunia dalam
           wujud Mirza Ghulam Ahmad.








                                                                                                 243
   254   255   256   257   258   259   260   261   262   263   264