Page 260 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 260
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Ahmadiyah pertama kali datang ke Indonesia melalui misionarisnya Khwaja
Kamaluddin. Namun dalam kedatangannya ke Surabaya dan Batavia pada
tahun 1920 Kamaluddin belum memperkenalkan Ahmadiyah samasekali. Dia
memperkenalkan pemikiran Islam modern yang berasal dari India. Misionaris
yang secara khusus datang untuk memperkenalkan Ahmadiyah adalah Mirza
Wali Ahmad Baig dan Maulana Ahmad. Mereka berdua datang ke Yogyakarta
tahun 1924. Kehadiran Ahmadiyah itu pada awalnya disambut dengan hangat
oleh kelompok modernis Muslim yang tergabung dalam Sarekat Islam (SI) dan
Muhammadiyah. Ini dikarenakan Ahmadiyah memiliki daya tarik tertentu bagi
kedua organisasi ini. Diantara daya tarik Ahmadiyah adalah menciptakan rasa
percaya diri yang tinggi tentang superioritas Islam, bahwa agama ini adalah
paling benar dan puncak dari ajaran Tuhan yang diturunkan kepada umat
manusia. Tekanan tentang superioritas Islam ini disampaikan kepada para
intelegensia abad 20 yang mengalami krisis keyakinan keagamaan akibat
serangan dari materialism dan atheism. Daya tarik kedua dari Ahmadiyah adalah
keseriusannya dalam menentang misi Kristen dengan melakukan penulisan
berbagai buku tentang agama Kristen dan juga kegiatannya berdebat dengan
misionaris Kristen . Daya tarik ketiga dari Ahmadiyah adalah kemampuan untuk
memodernisasi pemahaman tentang Islam. Daya tari keempat dari Ahmadiyah
adalah penyebaran pemahaman tentang Qur’an dengan bahasa lokal, yang
diantaranya melalui upaya penerjemahan. Keempat adalah jihad dengan media
cetak, buku dan sebagainya (Burhani 2013).
Secara organisasi, ada dua ormas Ahmadiyah di Indonesia, yaitu: GAI (Gerakan
Ahmadiyah Indonesia), yang merupakan ormas dari Ahmadiyah faksi Lahore,
dan JAI (Jemaat Ahmadiyah Indonesia), yang menjadi ormas bagi Ahmadiyah
faksi Qadian. GAI secara resmi berdiri pada 10 Desember 1928 dan yang
menjadi inisiator pendirian ormas ini sekaligus ketua pertamanya adalah R. Ng.
Djojosugito. Meski telah berdiri sejak 1928, namun secara keanggotaan JAI
tampak stagnan. Jumlah anggota ormas ini tak pernah lebih dari sepuluh ribu
orang. Kemandegan GAI dalam hal kuantitas ini diantaranya dikarenakan ia
tak terlalu memperhatikan upaya perekrutan anggota baru. GAI lebih banyak
menekuni aktivitas penerjemahan buku-buku, kajian perbandingan agama,
dan kegiatan pendidikan (Burhani 2014a, 143). Salah satu lembaga pendidikan
yang dimiliki oleh GAI adalah PIRI (Perguruan Islam Republik Indonesia). Tentang
penyebaran, anggota GAI kebanyakan berada di Jawa, terutama di Yogyakarta,
Kediri, dan Purwokerto.
Berbeda dari Ahmadiyah Lahore yang sudah datang ke Indonesia tahun 1920,
Ahmadiyah Qadian tiba di Indonesia tahun 1925 melalui misionarisnya yang
bernama Maulana Rahmat Ali. Ormas dari Ahmadiyah Qadian juga lahir lebih
belakangan dibandingkan dengan Lahore, yaitu tahun 15 Desember 1935.
Awalnya ormas dari Ahmadiyah Qadian bersama AQDI (Ahmadiyah Qadian
Departemen Indonesia). Pada pertemuan di Jakarta 12-13 Juni 1937, nama
AQDi diubah menjadi AADI (Anjuman Ahmadiyah Departemen Indonesia).
244

