Page 261 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 261
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Nama inipun kemudian diganti menjadi JAI (Jemaat Ahmadiyah Indonesia) pada
Desember 1949. Nama yang terakhir inilah yang manjadi nama resmi ormas
Ahmadiyah Qadian hingga sekarang dan tercatat secara resmi dalam menteri
Kehakiman No. J.A/5/23/13 pada 13 Maret 1953. JAI memiliki anggota yang
lebih besar dari GAI. Diperkirakan, anggota JAI mencapai angka 500.000 orang
dan tersebur di seluruh Indonesia. Persebaran terbesar dari anggota JAI ada
di Jawa Barat, terutama di kabupaten Garut, Tasikmalaya, dan Kuningan. Di
desa Manis Lor, Kuningan, misalnya, 80 persen dari penduduk desa itu adalah
pengikut Ahmadiyah.
Perbedaan kedua faksi Ahmadiyah itu terletak diantaranya pada status Mirza
Ghulam Ahmad dan sistem kekhilafahan. GAI hanya menganggap Ghulam
Ahmad sebagai mujaddid (pembaharu), bukan nabi. Bagi JAI, status Ghulam
Ahmad tidak hanya sebagai mujaddid, namun juga sebagai nabi. Namun
demikian, kenabian dari Ghulam Ahmad hanyalah mengikuti kenabian
Muhammad. JAI percaya bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir (khatam
al-nabiyyin) yang menerima risalah dari Allah, sementara Ghulam Ahmad
secara syariah mengikuti ajaran dari Nabi Muhammad. Perbedaan kedua dari
JAI dan GAI adalah dalam hal sistem kekhilafahan. GAI atau faksi Lahore tidak
mengakui kekhilafahan Ahmadiyah dan menentang khalifah Ahmadiyah yang
saat ini di tangan khalifah kelima, yaitu Mirza Masroor Ahmad. Berbeda dari
GAI, Ahmadiyah Qadian menerapkan sistem kepemimpinan yang hirarkis dan
sentralistis dengan kepemimpinan tertinggi berada di tangan khalifah yang saat
ini berkantor di London, Inggris. Anggota-anggota JAI memiliki kohesi yang
kuat satu sama lain dan memiliki ketaatan yang kuat terhadap organisasi. Hal
itu diantaranya disebabkan karena organisasi Ahmadiyah Qadian dibangun
seperti tarekat dimana setiap anggota dari jemaah ini harus mengucapkan baiah
kepada khalifah.
Selain Syiah, dan Ahmadiyah, ada beberapa ormas non-mainstream yang lahir
dari bumi Indonesia. Salah satu yang terkenal adalah LDII (Lembaga Dakwah Islam
Indonesia). Dalam sejarahnya, LDII ini berasal dari organisasi yang bernama Darul
Hadis. Nama lain yang dulu sering diasosiasikan kepada organisasi ini adalah
Islam Jamaah dan Lemkari (Lembaga Karyawan Islam). Ormas LDII didirikan oleh
Nurhasan Ubaidah Lubis di Kediri tahun 1952 atau bersamaan dengan berdirinya
Pondok Pesantren Burengan. Tahun 1980, Islam Jamaah pernah difatwakan
oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) sebagai kelompok agama yang sesat karena
menganggap bahwa “ajaran Islam yang sah dan boleh dituruti hanya ajaran
Islam yang bersumber dari ‘Amirul Mukminin’” (Amin 2010, 38). Selain itu MUI
meyakini bahwa pengikut ajaran ini
“harus memutus hubungan dari golongan lain walaupun orang tuanya sendiri,
tidak sah shalat di belakang orang yang bukan Islam Jama’ah, pakaian shalat
pengikut Islam Jama’ah yang tersentuh oleh orang lain yang bukan pengikutnya
harus disucikan, suami harus mengusahakan agar istrinya turut masuk golongan
245

