Page 258 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 258
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
secara keagamaan ia memandang berbagai tradisi keagamaan lokal di Indonesia
itu tidak Islami dan karena itu perlu direformasi. Dalam konteks referensi
keagamaan, Al-Irsyad juga mengajarkan untuk kembali mengkaji Al-Qur’an dan
hadits. Salah satu pengaruh penting dari keberadaan al-Irshad adalah adanya
perubahan sikap dari komunitas Arab di Indonesia dan juga sumbangannya
bagi revivalisme Islam di negeri ini (Affandi 1976). Dalam kaitannya dengan
nasionalisme, salah satu upaya dari Al-Irsyad, terutama oleh Abdurrahman
Baswedan, adalah mengubah nasionalisme orang-orang Arab di Indonesia dari
Hadramaut ke Indonesia (Jacobson 2009, 55). Salah satu daerah yang menjadi
basis dari ormas ini adalah Sumbawa di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Ormas Non-Mainstream: Syiah, Ahmadiyah, dan LDII
Ada beberapa ormas Islam non-mainstream yang telah ada di Indonesia selama
puluhan tahun. Beberapa diantaranya tidak lahir di bumi pertiwi, namun karena
karena keberadaannya yang sudah lama, mereka mengalami apa yang biasa
disebut sebagai pribumisasi. Diantara ormas itu adalah Syiah, Ahmadiyah, dan
LDII. Sebagai ajaran atau sekte keagamaan dalam Islam, kehadiran Syiah di
Indonesia lebih tua dari keberadaan negeri ini sendiri (Zulkifli 2013, 3). Namun
perkembangan Syiah di Indonesia mengalami perkembangan pesat setelah
Revolusi Iran tahun 1979. Secara kuantitatif, tidak ada angka yang pasti tentang
pengikut Syiah di Indonesia. Dengan mendasarkan pada informasi dari pimpinan
Syiah, beberapa studi menyebutkan bahwa jumlah pengikut Syiah di Indonesia
adalah sekitar satu juta orang (Zulkifli 2013, 15). Beberapa tokoh Syiah yang
cukup terkenal diantaranya adalah Jalaluddin Rakhmat, Husein a-Habsyi, dan
Husein Shahab.
Secara organisasi, ada banyak yayasan dan lembaga pendidikan atau pesantren
yang berafiliasi atau diasosiasikan dengan Syiah. Diantaranya adalah yayasan dan
lembaga pendidikan Muthahhari di Bandung, pesantren Al-Hadi di Pekalongan,
yayasan Al-Jawad di Bandung, Reusyanfikr di Yogyakarta, dan ICC (Islamic
Cultural Centre) di Jakarta. Namun ormas yang berideologi Syiah baru berdiri
pada 1 Juli 2000 dengan nama IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia). Ide
pendirian ormas ini dan proses pembentukan dibidani oleh beberapa tokoh
Syiah seperti Jalaluddin Rakhmat, Zainal Abidin al-Muhdar, Husein Shahab, Umar
Shahab, dan Ahmad Baragbah. Peresmian ormas ini dilaksanakan di Gedung
242

