Page 265 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 265
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
BAB VI
Penerbitan
dan Perbukuan
ehadiran buku [baca: buku islam] merupakan bagian inheren dari
perkembangan keagamaan di kalangan kaum Muslim. Dan pengalaman
KIndonesia menunjukkan bukti kuat hal demikian. Hal ini bisa dilacak
pada awal abad ke-20, ketika media cetak (majalah, koran, dan buku keislaman)
mulai diperkenalkan ke khalayak publik umat Islam Indonesia. Di samping para
ulama—yang secara tradisional telah lama berperan sebagai pemegang tunggal
otoritas keagamaan—kaum Muslim sejak awal abad itu memiliki media cetak
sebagai sumber pengetahuan keislaman dan akhirnya praktik keagamaan
mereka.
Difasilitasi oleh teknologi percetakan kolonial, kaum Muslim reformis pada awal Kaum Muslim reformis
abad ke-20 menjadikan penerbitan media cetak sebagai salah satu komponen pada awal abad ke-20
terdepan gerakan reformasi Islam—di samping pembaharuan sistem pendidikan menjadikan penerbitan
media cetak sebagai
dan pemikiran keagamaan. Proses ini melahirkan tidak saja munculnya wajah salah satu komponen
baru Islam, Islam reformis, tapi juga memperlihatkan suatu karakteristik yang terdepan gerakan
yang secara tegas membedakannya dari ulama di pesantren dengan kitab reformasi Islam
kuning-nya. Dengan media cetak sebagai saluran intelektual dan politik,
1
di samping tentu saja lembaga pendidikan modern, gerakan reformasi Islam
menjadi wacana yang dominan di kalangan masyarakat, khususnya perkotaan.
Dan sejak itu proses perubahan umat Islam di Indonesia modern pun menjadi
sesuatu yang tak terelakkan. 2
249

