Page 269 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 269
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Naqsabandiyah. Dalam hal ini, al-Imam menyatakan bahwa “sebagaimana telah
dijelaskan rekan kita, majalah al-Manãr di Mesir”, bahwa amalan persaudaraan
umat Islam harus didasarkan pada syari’ah. Al-Imam kemudian menekankan
bahwa “tidak ada keraguan dalam penjelasan hukum yang telah dibuat oleh
al-Manãr dalam persoalan ini.”
17
Memperkenalkan Budaya Cetak dan Modernitas
Melalui contoh-contoh di atas, al-Imam berperan penting dalam menghubungkan
reformisme Kairo kepada Muslim Asia Tenggara. Dan Thaher Djalaluddin,
sang redaktur, bertanggung jawab atas hubungan ini. Lebih dari itu, al-Imam
juga menandai munculnya tradisi intelektual Islam model baru yang mulai
mengadopsi perangkat dan fasilitas modern. Kondisi modernitas inilah yang
sebenarnya dipelajari oleh komunitas Jawi Mekkah di Kairo seperti Thaher, di
samping gagasan-gagasan reformis Abduh dan Ridā. Salah satu aspek utama
dari modernitas adalah penggunaan majalah dan surat kabar dalam gerakan
pembaharuan Islam. Mesin cetak—yang awalnya sempat ditolak kalangan
Muslim karena dampak sekularisasinya dalam penyebaran ajaran Islam yang
suci—menjadi bagian tidak terpisahkan dari gerakan pembaharuan di dunia
Muslim. Seperti pengalaman Muslim Asia Selatan dan Asia Tengah, mesin cetak
18
menjadi salah satu ciri utama yang menandai kemunculan reformisme Islam.
Dan al-Imam merupakan majalah pembaharuan pertama di Asia Tenggara yang
berperan atas keberhasilan penyebaran pesan-pesan reformis Kairo.
Oleh karena itu, al-Imam berperan dalam menciptakan ruang bagi tumbuhnya
budaya cetak dalam Islam Asia Tenggara. Ia menandai munculnya wajah baru Al-Imam merupakan
Islam dan para pemimpin Muslim, ”kaum reformis”, dan secara bersamaan majalah pembaharuan
menandai corak baru yang membedakan mereka dengan ulama tradisional, pertama di Asia
baik dari pesantren Jawa maupun surau Melayu, beserta kitab-kitab mereka. Tenggara yang
berperan atas
Akibat dari terbentuknya tatanan sosial Asia Tenggara yang modern ini, ulama keberhasilan
tradisonal tidak lagi dianggap sebagai satu-satunya otoritas yang memonopoli penyebaran pesan-
pembentukan pemikiran Islam. Tokoh-tokoh Muslim baru—para penulis majalah pesan reformis Kairo.
dan surat kabar—mulai terlibat dalam mendefinisikan Islam Asia Tenggara. Oleh
sebab itu, mesin cetak berperan penting dalam menyebarkan reformisme Islam
Kairo ke Asia Tenggara, dan karenanya juga berperan dalam mengubah wajah
Islam Asia Tenggara pada awal abad ke-20.
253

