Page 274 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 274

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    ada dalam  al-Manãr, menyatakan  bahwa Islam tidak punya mode pakaian
                                    maupun gaya memakai pakaian tertentu kecuali pada ritual ihram saat haji dan
                                    umrah; bahkan, seandainya mereka tak memakai pakaian ihram, mereka tak
                                    digolongkan sebagai kafir. Melalui contoh ini, al-Munir, sebagaimana al-Imam,
                                    menjadikan al-Manãr Kairo sebagai dasar bagi fatwa menyangkut persoalan-
                                    persoalan agama yang diperselisihkan di Sumatera Barat. Abdullah Ahmad
                                    mengakui bahwa fatwa ”ulama Mesir dan majalah mereka itu” merupakan
                                    sumber bagi fatwanya dalam al-Munir.

                                    Penggunaan dan rujukan Al-Munir kepada Al-Manãr juga terlihat dalam fatwa
                                    lain terkait dengan menggerakkan sejumlah bagian anggota badan sebagai
                                    suatu tanda akan terjadinya sesuatu di masa yang akan datang dalam kehidupan
               Bukti penyebaran
              Islam dari al-Manãr   seseorang. Pertanyaan ini diajukan oleh Mahmud bin Syekh Muhammad Idris
             Kairo kepada al-Munir   di Tilatang, Bukit Tinggi, Sumatera Barat.  Jawaban pertanyaan tersebut
                                                                              33
               maupun al-Imam       diberikan dalam edisi selanjutnya majalah ini (al-Munir 3, No. 13, 1913), yang
              membuktikan peran
              penting penerbitan    mana sejumlah kutipannya diambil dari al-Manãr. ”Bagi al-Munir”, tulis sang
               dalam diseminasi     redaktur, ”diutamakan untuk memberikan jawaban [atas pertanyaan ini] yang
              pembaharuan Islam     dikemukakan oleh majalah  al-Manãr  mengenai persoalan yang sama”. Lagi-
             di wilayah-wilayah di
             atas. Majalah-majalah   lagi mengikuti al-Manãr, majalah ini menyatakan bahwa sama sekali tidak ada
             tersebut menyediakan   kaitan antara menggerakkan anggota badan tertentu dengan sifat, watak
              saluran yang efektif   orang-orang tertentu, dan kehidupan mereka di masa depan. Karena itu, seperti
              bagi pembaharuan
              Islam berbasis Kairo   dalam persoalan pakaian, perujukan al-Munir terhadap al-Manãr Kairo sebagai
               yang dengannya       sumber dalam mengeluarkan fatwa, betul-betul menunjukkan keterlibatan
                 memperoleh         aktifnya dalam menyebarkan reformisme Islam ke Sumatera Barat dan Hindia-
                pengaruh atas
              umat Muslim Hindia    Belanda secara umum pada awal abad ke-20.
               Belanda. Majalah-
               majalah tersebut     Bukti penyebaran Islam dari al-Manãr Kairo kepada al-Munir maupun al-Imam
               juga mendorong
              tumbuhnya Muslim      membuktikan peran penting penerbitan dalam diseminasi pembaharuan Islam
             baru, kaum reformis,   di wilayah-wilayah di atas. Majalah-majalah tersebut menyediakan saluran yang
              serta menyediakan     efektif bagi pembaharuan Islam berbasis Kairo yang dengannya memperoleh
              dukungan ideologis
            yang kuat bagi gerakan   pengaruh atas umat Muslim Hindia Belanda. Majalah-majalah tersebut juga
              pembaharuan Islam     mendorong  tumbuhnya  Muslim  baru,  kaum  reformis,  serta  menyediakan
            yang berkontribusi bagi   dukungan  ideologis  yang  kuat  bagi  gerakan pembaharuan Islam  yang
              terus meningkatnya
               pengaruh mereka      berkontribusi bagi terus meningkatnya pengaruh mereka di kalangan Muslim
                                                                    34
              di kalangan Muslim    Indonesia pada awal abad ke-20.  Hasilnya, ide-ide pembaharuan Islam mulai
             Indonesia pada awal    menjadi wacana utama masyarakat dalam kemunculan organisasi-organisasi
                 abad ke-20.
                                    Muslim modern di Hindia-Belanda pada periode itu.

















                    258
   269   270   271   272   273   274   275   276   277   278   279