Page 272 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 272
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Tujuan-tujuan tersebut, dalam edisi tahun 1913, kembali ditekankan oleh
al-Munir memiliki
perhatian yang hampir redaktur majalah sebagai tanggapan atas meningkatnya suara-suara yang
sama dengan al-Imam. menolak penerbitan majalah tersebut; yaitu, ”untuk memperoleh agama Islam
Al-Munir dirancang yang sejati serta untuk menegakkan syari’ah Nabi Muhammad yang benar
untuk menjadi dengan dorongan menghidupkan kembali tradisi Nabi dan mengutuk bid’ah
”mercusuar yang
menerangi kehidupan dalam praktik-praktik ibadah umat Muslim”. Al-Munir menguraikan tujuan di
[beragama]”. Redaktur atas dengan maksud agar praktik-praktik ibadah Islam dijalankan berdasarkan
al-Munir menjelaskan sumber-sumber utama ajaran Islam: Qur’an, tradisi Nabi, dan tradisi sahabat-
tujuan- majalah
ini. Pertama, untuk sahabat Nabi. Ketiganya merupakan fondasi dasar untuk menyelesaikan segala
memimpin dan perbedaan dan perselisihan agama. 28
membawa Muslim
Melayu di Sumatera
kepada kepercayaan Dengan demikian, seperti al-Imam, al-Munir dipusatkan terutama pada persoalan-
dan praktik agama persoalan keagamaan umat Muslim di Asia Tenggara. Majalah ini turut serta
yang benar; kedua, dalam menampilkan Islam dengan cara yang sesuai dengan masyarakat yang
untuk memelihara
kedamaian dan semakin modern, serta mendorong kemajuan. Karena itu, praktik-praktik agama
keharmonisan di antara tradisional dianggap telah tercemari oleh adat kebiasaan setempat sebelum
sesama manusia dan Islam, dan karenanya menjadi sasaran kecaman. Al-Munir menekankan bahwa
menunjukkan kesetiaan
pada pemerintah ketidakmurnian dalam kepercayaan dan praktik keagamaan harus dibersihkan.
Belanda; dan ketiga, Untuk alasan itulah majalah ini menyatakan bahwa umat Islam harus kembali
untuk menerangi kepada Qur’an dan hadis, serta menerapkan ijtihad, bukannya taklid, dalam
umat Muslim dengan 29
pengetahuan dan memahami doktrin-doktrin Islam.
kebijaksanaan.
Oleh karena itu, sebagaimana halnya al-Imam, rujukan kepada al-Manãr juga
dapat ditemukan dalam al-Munir. Salah satu contoh terbaik untuk disebutkan di
sini adalah fatwa menyangkut persoalan pakaian. Fatwa ini penting dalam arti
bahwa ia tidak hanya membuktikan adanya transmisi fatwa dari al-Manãrke al-
Munir, tapi juga menunjukkan adanya dialog yang jelas di antara kedua majalah
30
Sebagaimana halnya itu, yang terjadi sepanjang adanya permintaan fatwa kepada al-Manãr.
al-Imam, rujukan
kepada al-Manār juga Al-Manãr (14, 1911) menerbitkan pertanyaan-pertanyaan dari Abdullah Ahmad,
dapat ditemukan
dalam al-Munir. Salah redaktur al-Munir, yang meminta fatwa mengenai beberapa persoalan yang
31
satu contoh terbaik diperselisihkan, dua diantaranya menyangkut isu pakaian dalam Islam. Dia
untuk disebutkan menanyakan status hukum kaum Muslim yang memakai pakaian Eropa, seperti
di sini adalah fatwa
menyangkut persoalan topi dan dasi, apakah kaum Muslim tersebut keluar dari Islam atau tidak. Dia
pakaian. Fatwa ini mengajukan pertanyaan ini karena adanya fatwa yang dikeluarkan oleh ulama
penting dalam arti setempat di Sumatera Barat, yang menyatakan bahwa memakai pakaian Eropa
32
bahwa ia tidak hanya
membuktikan adanya dilarang dengan alasan hadis Nabi yang mengatakan bahwa ”barangsiapa
transmisi fatwa dari meniru suatu kaum maka ia adalah bagian dari mereka”. Abdullah Ahmad
al-Manār ke al-Munir, kemudian mempertanyakan hakikat dan kebenaran ucapan Nabi tersebut
tapi juga menunjukkan beserta makna kata ”meniru” (tasyabbuh).
adanya dialog yang
jelas di antara kedua
majalah itu, yang Dalam konteks ini, jawaban Rashìd Ridhã dalam al-Manãr menjadi sumber
terjadi sepanjang
adanya permintaan bagi Abdullah Ahmad untuk mengeluarkan fatwa mengenai topik pakaian
fatwa kepada al-Manār. yang sama dalam al-Munir. Dalam satu edisi di tahun yang sama (17, 1911),
al-Munir menerbitkan sebuah fatwa yang sama substansinya dengan yang
256

