Page 276 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 276

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Kedua, Buku-buku yang dikategorikan sebagai buku fikih seperti Kitab’l salat
                                    (Abu  Dardari,  1926),  Zakatoel Fitir  (Sayid  Oemar  bin  Alaoei  Alatas,  1925);
                                    Bab Djinadjah (Soeharti binti M. Ihsan), Boekoe aosan solat (Soenda) kangge
                                    moerangkalih sareng anoe nembe beladjar salat (Persatuan Islam, 1935), serta
                                    beberapa buku yang ditulis oleh A. Hassan seperti Al-Burhan (1992), Kitab Fiqh
                                    al-Boerhan, (1928), serta Pengadjaran salat, (1929).


               Awal abad ke-20      Selain itu awal abad ke-20 juga ditandai dengan maraknya buku-buku komentar
             juga ditandai dengan   tentang Alquran. Selain buku-buku tentang tafsir oleh Muhammad Abduh,
             maraknya buku-buku
              komentar tentang      terdapat pula beberapa buku yang ditulis oleh sarjana-sarjana Muslim lainnya
               Alquran, teologi,    seperti misalnya  Al-Boerhan: Mentapsirkan doea poeloeh doea soerat dari pada
              sufisme dan hadist.   al-Qoeran (1930) Boekoe tafsir soerat ichlas (1928), Tafsir al-Foerqan (1928),
                                    yang diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda pada tahun 1930.  41


                                    Kategori lain yang juga turut berkembang saat itu adalah beberapa karya
                                    tentang teologi dan sufisme. Selain Ihya Ulum al-Din karya al-Ghazali, ada juga
                                    karya dari H.A. Malik Karim Amrullah seperti Arkanoe ‘l-iman dengan jalan soal-
                                    djawab (1933) dan Sendi Iman Tiang Selamat, (1930). Lebih jauh, ada pula buku
                                    Ilmoe Sedjati  (1910), Pemboeka Pintoe Soerga  (1914),  Titian kesoerga serta
                                    Kitab oetsoeloeddin  (1916).  Sedangkan  buku-buku  yang  berkaitan  langsung
                                    dengan sufisme dintaranya Tasaoef dalam agama Islam (Sjarafoe’ddin Maneri,
                                    1916), dan Ilmoe Rohani (Sjihaboeddin Effendi Idris, 1930).

                                    Selain itu ada pula karya-karya yang berhubungan dengan hadis, seperti Hadits
                                    Tardjamah Melajoe  (Abu  Abdillah  Muhammad  bin  Ismail  al-Bukhari,  1936)
                                    maupun Boekoe Ahadits al-Nabawiyah, The Book of al-Ahadist al-Nabawiyyah,
                                    (Abi Haiban, 1922) yang notabene cukup dikenal dalam komunitas pesantren-
                                    pesantren kala itu.
                                                      42
                                    Buku-buku dari daftar Ockeleon tersebut di atas—juga pembahasan lain yang
                                    berkenaan  dengan  tema-tema  serupa  yang  dikupas  majalah  dan  koran—
                                    membuktikan makin besarnya peran publikasi dalam menghadirkan Islam
                                    untuk audiens Muslim di wilayah perkotaan Indonesia. Publikasi tersebut mulai
                                    tampak sebagai sumber utama informasi keagamaan kaum Muslim kota, dan
                                    memainkan peranan yang sama dengan kitab kuning dalam pesantren dan
                                    komunitas-komunitas Muslim tradisional secara umum. Dengan demikian,
                                    penerbitan tersebut berkontribusi pada pembentukan komunitas Muslim baru,
                                    dengan ide-ide dan praktik-praktik keberagamaan yang berbeda dengan kaum
                                    Muslim tradisional di pesantren.


                                    Buku-buku  dari  daftar  Ockeleon  tersebut—juga  buku-buku  lain  berkenaan
                                    dengan  tema-tema  tersebut,  majalah,  dan  koran—cukup  membuktikan
                                    semakin berperannya publikasi-publikasi dalam menghadirkan Islam kepada








                    260
   271   272   273   274   275   276   277   278   279   280   281