Page 280 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 280

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Seorang  tokoh  penting  dalam  pimpinan  pusat  Muhammadiyah  (1953-1971)
                                    Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), menulis buku Peladjaran Agama Islam
                                    (Jakarta: Bulan Bintang, 1956), 1001 Soal-Soal Hidup (Jakarta: Bulan Bintang,
                                    1961),  dan  Tafsir Al-Azhar  (Jakarta:  Pembimbing  Masa,  1967),  cetak  ulang
                                    tahun  1992  (Jakarta:  Pustaka  Panjimas).  Tokoh terkemuka Muhammadiyah
                                                                           46
                                    lainnya, K.H. Mas Mansoer (1896-1946), yang pernah menjadi Ketua Umum
                                    Pimpinan  Pusat  Muhammadiyah  (1937),  menulis  Risalah Tauhid dan Sjirik
                                    (1949), di samping Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah, yang pertama
                                    kali disusun tahun 1929. Djarnawi Hadikusumo, salah seorang tokoh penting
               Buku-buku yang       Muhammadiyah lainnya, menulis Muhammadijah Ahlus Sunnah wal-Djama’ah?
               diterbitkan pada
               masa Orde Lama       (tanpa tahun), dicetak ulang dengan judul Ahlus Sunnah wal-Jama’ah: Bid’ah
            merupakan buku-buku     Khurafat pada tahun 1996 (Yogyakarta: Pesatuan).
             bercorak teologi dan
             pemahaman Alquran
             yang ditujukan untuk   Dari beberapa buku yang disebutkan di atas, tampak jelas buku-buku yang
             menegaskan gagasan     diterbitkan  pada  masa  Orde  Lama  merupakan  buku-buku  bercorak  teologi
            dan ideologi kalangan   dan pemahaman Alquran yang ditujukan untuk menegaskan gagasan dan
            reformis, yang sebagian
               besar diterbitkan    ideologi kalangan reformis, yang sebagian besar diterbitkan oleh organisasi
             oleh organisasi atau   atau penerbitan milik organisasi reformis tersebut. Walhasil, hingga menjelang
               penerbitan milik     akhir 1960-an kita menyaksikan sebuah garis yang sangat jelas memisahkan
              organisasi reformis
                  tersebut.         komunitas  Muslim  ke  dalam  tradisionalis  dan  modernis  (reformis),  dengan
                                    organisasi NU dan Muhammadiyah sebagai representasinya.











                                    Buku Islam sebagai Industri Keagamaan:  Perkembangan
                                    di Indonesia Kontemporer




                                    Secara umum, pesatnya pertumbuhan buku-buku Islam seperti terjelaskan di
                                    atas, bisa dilihat dari pertambahan yang signifikan jumlah penerbit yang bergerak
                                    dalam memproduksi buku Islam. Jika sebelum tahun 80-an, hanya ada beberapa
                                    penerbit Islam yang berskala nasional, seperti Al Maarif (didirikan di Bandung,
                                    1949), Bulan Bintang (didirikan di Jakarta, 1951), Media Dakwah (didirikan di
                                    Jakarta, akhir tahun 70-an) , maka, selama periode 1981-1989, Ikatan Penerbit
                                    Indonesia (IKAPI) mencatat bahwa jumlah penerbit Islam berjumlah sekitar 6
                                             47
                                    penerbit.  Dan dalam prakteknya, kisaran tahun 80an, Indonesia setidaknya
                                    diramaikan  oleh  kehadiran  penerbit-penerbit  Islam  seperti,  Pustaka  Salman
                                    (1980),  Shalahuddin  Press  (1983),  Mizan  (1983),  Gema  Insani  Press  (1986),
                                    ataupun Penerbit Paramadina (1986 ).








                    264
   275   276   277   278   279   280   281   282   283   284   285