Page 285 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 285

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           karena mewakili—meski tentu saja tidak secara keseluruhan—realitas sosiologis   Satu hal sangat penting
           Muslim Indonesia. Ketiga penerbit tersebut adalah Mizan, yang di sini mewakili   untuk dijelaskan di
           kelompok  Muslim  moderat,  Gema  Insani  Press  (GIP)  mewakili  kelompok       sini adalah fakta
                                                                                            bahwa penerbit
           skripturalis  atau  fundamentralis,  dan  LkiS  (Lembaga  Kajian  Islam  dan  Sosial)   buku Islam dalam
           mewakili kecendrungan kiri Islam yang kritis terhadap bhaik baik doktrin        perkembangannya
           maupun pranata sosial.                                                               tampak
                                                                                            memperlihatkan
                                                                                          satu pola yang tegas
           Kita mulai dengan Mizan. Penting dicatat  bahwa pada awal tahun 80-an           menyangkut corak
           masyarakat Indonesia cukup dikejutkan dengan kehadiran penerbit Islam Mizan      pemikiran sosial-
                                                                                         intelekitual Islam yang
           dengan dua buku best seller-nya, yakni Dialog Sunnah-Syiah karya A.Syafaruddin   menjadi basis ideologis
           al-Musawi dan  Surat Menyurat Maryam Jamilah-Maududi.  Penerbit yang            kegiatan dan pada
                                                                     68
           berdiri tahun 1983 ini sedari awal berusaha melakukan sesuatu yang inovatif.   akhirnya seleksi corak
           Bahkan tujuan didirikannya Mizan adalah untuk menerbitkan, dalam format        buku-buku yang akan
                                                                                              diterbitkan.
           buku modern yang mewah, karya-karya penting pemikiran Islam kontemporer
           yang ditulis baik oleh para intelektual muda maupun oleh para pemikir Islam
           internasional, dengan maksud untuk menyediakan gambaran gagasan-gagasan
           Islam yang seimbang (mizan).

           Terkait penerbitan buku Dialog Sunnah-Syiah, si samping karya para pemikir
           Syiah seperti Ali Syariati dan Murtadha Muthahari, Mizan memang  diklaim
           sebagai penerbit kelompok Syiah.  Namun, Mizan tampaknya hanya
                                              69
           memberinya sedikit ruang dalam iklim Indonesia yang mengabaikan Syiah.
           Bahkan, kebanyakan buku yang diterbitkan Mizan adalah buku-buku Sunni;
           dan di tahun-tahun awal berdirinya Mizan juga menerbitkan buku-buku tokoh
           populer dari Ikhwanul Muslimin, salah satunya adalah buku  Surat-Menyurat
           Maryam Jamilah-Maududi.  70

           Mahasiswa tentu saja mernjadi salah satu target pembaca publikasi Mizan,
           meski tidak sedikit dari kalangan mahasiswa yang justru menjadi musuh bagi
           banyak pemikiran baru yang bukunya diterbitkan Mizan, termasuk karya
           Nurcholish Madjid. Para pembaca Mizan yang utama, menurut Watson, adalah
           dari generasi yang sedikit lebih tua, yakni orang-orang yang menjadi pendukung
           gerakan Islam kultural di tahun 1970-an.


           Pengaruh yang paling penting dari Mizan pada awal-awal berdirinya adalah         Pengaruh yang
           menerbitkan pemikiran intelektual  muda Muslim kelas menengah yang              paling penting dari
           berada pada garda terdepan perdebatan-perdebatan Islam di Indonesia,            Mizan pada awal-
                                                                                            awal berdirinya
           seperti  Nurcholish  Madjid,  Kuntowijoyo,  dan  Amien  Rais—orang-orang  yang   adalah menerbitkan
           memperoleh keberuntungan dari kebijakan pemerintah Orde Baru yang              pemikiran intelektual
           mendukung intelektual Muslim tersebut untuk studi doktoral ke luar negeri, di   muda Muslim kelas
           universitas-universitas di Barat, ketimbang di Timur Tengah. Dalam kaitan ini,   menengah yang berada
                                                                                          pada garda terdepan
           Mizan mengeluarkan seri penerbitan yang diberinya nama ‘Seri Cendekiawan      perdebatan-perdebatan
           Muslim’, yang dimaksudkan untuk menyediakan platform bagi berkembangnya         Islam di Indonesia.
           ide-ide baru. 71






                                                                                                 269
   280   281   282   283   284   285   286   287   288   289   290