Page 271 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 271

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           Didukung oleh modernisasi yang dilancarkan Inggris dan Belanda, sejumlah
           wilayah di semenanjung Melayu dan Hindia-Belanda muncul sebagai benteng          Melalui majalah
                                                                                              al-Imam dan
           bagi perkembangan reformisme Islam dari Singapura. Ini khususnya terjadi          Sekolah Iqbal,
           di  kota-kota  yang  mengalami  urbanisasi  di  mana  infrastruktur  modern  telah   Thaher Djalaluddin
           didirikan. Kaum Muslim di wilayah itu mulai terlibat dalam proyek pembaharuan   membangun hubungan
                                                                                           yang kokoh antara
           dengan menyuarakan perlunya merumuskan ulang doktrin-doktrin Islam             Islam Asia Tenggara
           di bawah semangat kemajuan modern. Untuk itu, mereka mulai mendirikan          dengan Reformisme
           organisasi-organisasi modern, sekolah-sekolah bergaya barat, serta menerbitkan   Islam Kairo. Ia telah
                                                                                           meletakkan dasar-
           majalah, surat kabar, dan buku. Di Hindia-Belanda, kota Padang di Sumatera     dasar bagi munculnya
           Barat muncul sebagai daerah pertama di mana benih pembaharuan Islam terlihat    lapisan baru dalam
           jelas.  Kaum Muslim reformis di daerah itu dikenal luas sebagai kaum muda,     wajah Islam, di atas
               22
                                                                                            Islam tradisional
           golongan pertama yang menyuarakan reformisme Islam, terutama melalui           yang telah terbentuk
           majalah mereka al-Munir.                                                       lama di bawah kuasa
                                                                                          ulama.  Oleh karena
                                                                                          itu, di samping kitab,
                                                                                          Muslim Asia Tenggara
                                                                                          mulai mengambil apa
                                                                                          yang dihasilkan oleh
                                                                                          media cetak sebagai
                                                                                           sumber baru dalam
                                                                                             pembelajaran.

           Al-Munir dan Kaum Muda Sumatera Barat





           Terbit dari 1911 sampai 1918, al-Munir didirikan sebagai majalah pembaharuan
           kaum muda Sumatera Barat yang melanjutkan peran dan semangat al-Imam,
           yang berhenti terbit tahun 1908.  Hadji Abdullah Ahmad, pendiri sekaligus
                                           23
           redaktur al-Munir, bahkan ”meniru semboyan dan bentuk majalah al-Imam.”
                                                                                   24
           Memang, Abdullah Ahmad memiliki hubungan dekat dengan al-Imam, seiring
           perannya sebagai perwakilan  al-Imam  di Padang Panjang. Kunjungannya ke
           Singapura pada 1908 agaknya telah memberinya kesempatan untuk mempelajari
                                                                                         Terbit dari 1911 sampai
           keterampilan teknis dan manajemen penerbitan majalah.  Dia adalah perintis    1918, al-Munir didirikan
                                                                 25
           tunggal al-Munir. Namanya seringkali dihubungkan dengan majalah ini, sampai-     sebagai majalah
           sampai dia dipanggil ”H. Abdullah Al-Munir.”                                   pembaharuan kaum
                                                     26
                                                                                          muda Sumatera Barat
                                                                                           yang melanjutkan
           Melihat asal-usulnya, al-Munir memiliki perhatian yang hampir sama dengan      peran dan semangat
           al-Imam.  Al-Munir dirancang untuk menjadi ”mercusuar yang menerangi          al-Imam, yang berhenti
                                                                                           terbit tahun 1908.
           kehidupan  [beragama]”.  Redaktur  al-Munir  menjelaskan  tujuan-  majalah    Hadji Abdullah Ahmad,
           ini. Pertama, untuk memimpin dan membawa Muslim Melayu di Sumatera               pendiri sekaligus
           kepada kepercayaan dan praktik agama yang benar; kedua, untuk memelihara        redaktur al-Munir,
           kedamaian dan keharmonisan di antara sesama manusia dan menunjukkan              bahkan ”meniru
           kesetiaan pada pemerintah Belanda; dan ketiga, untuk menerangi umat Muslim    semboyan dan bentuk
                                                                                           majalah al-Imam.
                                                 27
           dengan pengetahuan dan kebijaksanaan.






                                                                                                 255
   266   267   268   269   270   271   272   273   274   275   276