Page 270 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 270
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
Selain penerbitan, pembaruan pendidikan menjadi aspek penting lain dari
reformisme Islam. Ketimbang membangun pesantren atau surau, para reformis
Muslim lebih memilih mendirikan lembaga pendidikan modern, sekolah dan
madrasah. Begitu pula ketimbang mencetak ulama, sekolah dan madrasah
lebih diorientasikan untuk mencetak pemimpin-pemimpin Muslim baru, yang
disebut oleh Mukti Ali—salah satu tokoh terkemuka dalam organisasi Muslim
reformis Muhammadiyah, sebagaimana akan saya bahas nanti—sebagai
”Muslim terpelajar”. Yakni, para pemimpin Muslim dengan semangat modern
dan gagasan reformis. Berbeda dengan pesantren dan surau, yang hanya
19
berkonsentrasi pada pemberian pengetahuan agama, sekolah dan madrasah
mengajarkan pengetahuan dalam artian yang lebih luas kepada umat Muslim,
meliputi apa yang disebut dengan “mata pelajaran sekular”, seperti matematika
(aljabar), bahasa Inggris, bahasa Belanda, geografi, dan sejarah. Selain itu, sekolah
dan madrasah juga memperkenalkan metode pendidikan baru yang diambil dari
Sekolah dan madrasah lembaga pendidikan Barat. Karena itu, sekolah dan madrasah berperan dalam
berperan dalam
meningkatkan gerakan meningkatkan gerakan reformisme Islam, dan secara cepat menyaingi otoritas
reformisme Islam, dan keagamaan ulama tradisional dalam Islam Asia Tenggara pada awal abad ke-20.
secara cepat menyaingi
otoritas keagamaan
ulama tradisional dalam Reformasi pendidikan memang menjadi perhatian Thaher Djalaludin, di samping
Islam Asia Tenggara al-Imam. Tidak lama setelah menerbitkan majalah al-Imam, dia menjadi guru
pada awal abad ke-20. di madrasah yang baru berdiri, Madrasah al-Iqbal al-Islãmiya, Sekolah Iqbal, di
Singapura tahun 1907. Dipimpin oleh ’Uthmãn Affandî Raf’at dari Mesir dan
dengan bantuan keuangan dari Raja Haji Ali dari Kerajaan Lingga-Riau, Sekolah
Iqbal menjadi pelopor sekolah Islam modern di Asia Tenggara. Dengan staf
20
pengajar yang direkrut’Uthmãn Affandî dari Mesir—untuk itu ia kembali ke
Mesir pada tahun 1907—sekolah ini menjadi sarana efektif untuk menyebarkan
pembaharuan Islam di Asia Tenggara. Seperti yang dilaporkan majalah al-Imam,
sekolah ini dirancang untuk memberikan para murid pelajaran keislaman dan
juga yang disebut pelajaran sekuler.
21
Dengan demikian, melalui majalah al-Imam dan Sekolah Iqbal, Thaher
Djalaluddin membangun hubungan yang kokoh antara Islam Asia Tenggara
dengan Reformisme Islam Kairo. Ia telah meletakkan dasar-dasar bagi munculnya
lapisan baru dalam wajah Islam, di atas Islam tradisional yang telah terbentuk
lama di bawah kuasa ulama. Oleh karena itu, di samping kitab, Muslim Asia
Tenggara mulai mengambil apa yang dihasilkan oleh media cetak sebagai
sumber baru dalam pembelajaran; selain pesantren dan surau, muncul madrasah
sebagai institusi baru untuk mendidik umat Muslim; demikian juga permintaan
fatwa mulai ditujukan kepada redaktur majalah dan surat kabar, di samping
kepada ulama. Dengan demikian, pembaharuan Islam tidak hanya menandai
kemunculan pemikiran Islam baru, tapi juga wajah baru Islam Asia Tenggara.
Baik media cetak maupun sekolah muncul sebagai sarana diseminasi pesan-
pesan para reformis, yang mengakibatkan munculnya kepemimpinan agama
baru di Asia Tenggara.
254

