Page 267 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 267

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           Pengaruh  al-Manãr terhadap  al-Imam  tampak pada fakta bahwa  al-Imam
           menerbitkan sejumlah artikel dari al-Manãr. Pada 29 Agustus 1908, redaktur
           al-Imam mengumumkan kepada pembacanya bahwa majalah mereka akan
           mulai menerbitkan tafsir al-Qur’an. Dan al-Imam kemudian menyediakan ruang
           khusus untuk tujuan tersebut, yakni terjemahan Melayu atas tafsir yang telah
           diterbitkan dalam al-Manãr.


                Sebagaimana telah disebutkan dalam edisi al-Imam sebelumnya, kami
                berjanji untuk menerbitkan terjemahan tafsir Qur’an bagi para pembaca,
                yang berasal dari kuliah Ustad Syekh Muhammad  ’Abduh di al-Azhar
                baru-baru ini. Dalam rangka memenuhi janji kami, edisi kali ini kami mulai
                dengan menyajikan Pendahuluan [penjelasan Qur’an], yang disampaikan
                dalam sebuah kuliah oleh Muhammad ’Abduh di al-Azhar pada bulan
                Muharram 1316 H, seperti yang telah diterbitkan dalam al-Manãr volume
                ketiga edisi keempat. 9





           Kutipan  di atas hanyalah  satu  dari sekian banyak  contoh  di mana  al-Imam
           menerbitkan artikel, atau sejenisnya, yang awalnya sudah diterbitkan al-Manãr.
           Tafsir al-Qur’an ini menegaskan misi utama al-Imam dalam menyebarluaskan
           gagasan-gagasan reformis dari Kairo ke Asia Tenggara. Tafsir al-Qur’an
           merupakan salah satu bidang keilmuan utama dalam pengetahuan keislaman.
           Ia memberikan  umat Muslim  kerangka inti dalam memahami sumber ajaran
           Islam, yakni al-Qur’an. Dengan penerjemahan tafsir ini, majalah al-Imam telah
           meletakkan salah satu sendi pokok reformisme Islam kepada umat Muslim Asia
           Tenggara.                                                                      Tafsir Qur’an ’Abduh,
                                                                                            yang kemudian
           Perlu dicatat, tafsir Qur’an ’Abduh, yang kemudian dimasukkan dalam Tafsir al-  dimasukkan dalam
                                                                                          Tafsir al-Manār oleh
           Manãr oleh Rashãd Ridã—muridnya yang merampungkan karya ’Abduh tentang        Rashãd Ridã—muridnya
           tafsir—tidak hanya menunjukkan adanya suatu kecenderungan modern, tapi         yang merampungkan
           juga sikap rasional sejumlah Muslim atas penafsiran Qur’an.  Bagi Muslim Asia   karya ’Abduh tentang
                                                                   10
                                                                                           tafsir—tidak hanya
           Tenggara, sebagaimana halnya Muslim Mesir, tafsir Qur’an ’Abduh merupakan      menunjukkan adanya
           peralihan yang radikal di bidang kepustakaan tafsir. Ia berbeda dengan kitab   suatu kecenderungan
           tafsir yang telah lama digunakan dalam pembelajaran Islam tradisional di        modern, tapi juga
                                                                                             sikap rasional
           pesantren, di mana Tafsir Jalalain as-Suyuthi dan al-Mahalli menjadi pegangan   sejumlah Muslim atas
                 11
           utama.  Dengan tafsir  ini,  al-Imam bermaksud menjelaskan Qur’an secara        penafsiran Qur’an.
           praktis kepada pembaca lebih luas, lebih dari yang bisa dijangkau oleh tafsir    Bagi Muslim Asia
           klasik yang kebanyakan dari kalangan santri pesantren.                        Tenggara, sebagaimana
                                                                                          halnya Muslim Mesir,
                                                                                          tafsir Qur’an ’Abduh
           Selain tafsir,  al-Imam  juga menerbitkan artikel penting lain yang pantas     merupakan peralihan
           dikemukakan. Artikel tersebut adalah versi terjemahan dari karya seorang ulama   yang radikal di bidang
                                                                                           kepustakaan tafsir.
           Mesir, Syekh Muhammad bin Ibrãhim al-Ahmadî, berjudul “Ilmu dan Ulama.”








                                                                                                 251
   262   263   264   265   266   267   268   269   270   271   272