Page 360 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 360

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Kementerian agama didirikan secara resmi pada 1946. Namun, akar dari
             Kementerian agama
             didirikan secara resmi   kementerian ini sudah ada sejak masa kolonialisme Belanda dan Jepang. Pada
              pada 1946. Namun,     masa kolonial Belanda, kebijakan terkait agama dibedakan berdasarkan dua
             akar dari kementerian   golongan besar kelompok masyarakat, yaitu Nasrani dan yang selain Nasrani.
              ini sudah ada sejak
              masa kolonialisme     Urusan keagamaan ini  pada praktiknya kemudian dikoordinasikan oleh beberapa
             Belanda dan Jepang.    lembaga.  Soal peribadatan umum penduduk yang beragama Nasrani, misalnya,
                                             3
              Pada masa kolonial    dikoordinasikan oleh Departement van Onderwijs en Eeredienst (Departemen
              Belanda, kebijakan
                terkait agama       Pengajaran dan Ibadah). Soal pengangkatan pejabat agama penduduk pribumi,
            dibedakan berdasarkan   perkawinan, kemasjidan, haji, dan lain-lain menjadi urusan Departement van
              dua golongan besar    Binnenlandsch Bestuur (Departemen Dalam Negeri). Sementara Mahkamah Islam
            kelompok masyarakat,
            yaitu Nasrani dan yang   Tinggi atau Hofd voor Islamietische Zaken menjadi wewenang Departement van
                selain Nasrani.     Justitie (Departemen Kehakiman).


                                    Di luar beberapa lembaga bentukan pemerintah kolonial Belanda di atas, satu
                                    lembaga lain yang paling berpengaruh dalam perumusan  kebijakan Belanda
                                    tentang Islam berada di bawah koordinasi  Kantoor voor Inlandsche Zaken,
                                    yang memiliki fungsi utama sebagai penasehat gubernur jenderal untuk urusan
                                    pribumi, terutama Islam dan kelompok Arab. Posisi kantor penasehat yang
                                    berhubungan dengan dan bertanggung jawab langsung kepada gubernur
                                    jenderal membuatnya berperan jauh lebih strategis dibandingkan dengan
                                    kantor-kantor lain yang bersinggungan dengan soal agama. Lewat lembaga
                                    penasehat ini, cara Belanda menangani persoalan pribumi banyak mengalami
                                    perubahan. Pemerintah kolonial Belanda kemudian tidak lagi mendasarkan
                                    kebijakan soal pribumi pada rasa takut, curiga dan karenanya tidak mau terlalu
                                    campur tangan. Lewat Snouck Horgronje, peletak dasar mekanisme operasional
                                    kantor penasehat  yang mengerti  luar dalam soal  Islam, pemerintah Kolonial
                                    Belanda kemudian secara aktif menangani dan mengatur kehidupan Islam
                                    pribumi di berbagai bidang, seperti organisasi keislaman, pendidikan Islam,
                                    pengadilan agama, haji, sampai urusan masjid dan warisan. 4

             Pada masa penjajahan
              Jepang, pemerintah    Pada masa penjajahan Jepang, penanganan pemerintah kolonial soal pribumi
               kolonial Jepang      dan keagamaan pada dasarnya tidak berubah. Melihat potensi perlawanan dari
            membentuk Shumubu,      kelompok masyarakat Muslim Indonesia, Jepang juga merasa perlu melakukan
              kantor administrasi
                 militer untuk      penjinakan lewat pengaturan sistematis bidang keagamaan yang bisa menjadi
              urusan agama yang     peletup perlawanan sekaligus pemersatu gerakan kaum pribumi. Kepentingan
               berfungsi untuk      terhadap Islam sendiri sudah bergulir di kalangan Jepang sejak medio 1930-an
            mengimplementasikan                                                                               5
              kebijakan kolonial    seiring dengan menguatnya keinginan Jepang untuk menaklukkan Asia Pasifik.
               Jepang terkait isu   Untuk itu,  pemerintah kolonial Jepang membentuk Shumubu, kantor administrasi
              agama terutama di     militer untuk urusan agama yang berfungsi untuk mengimplementasikan
                    Jawa.
                                    kebijakan kolonial Jepang terkait isu agama terutama di Jawa.
                                                                                              6
                                    Posisi tersebut hampir sama dengan yang dimiliki Kantoor voor Islamietische
                                    Zaken pada masa Belanda. Bedanya, jika di masa Belanda kantor serupa dirancang
                                    di atas prinsip “netralitas” terhadap agama, di era Jepang kantor terkait
                                    urusan agama ini sejak awal didesain untuk menggalang dukungan dari para





                    344
   355   356   357   358   359   360   361   362   363   364   365