Page 363 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 363

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           Kerukunan Umat Beragama


           Kristenisasi yang berlangsung sejak masa penjajahan Belanda terus menjadi isu
           panas pasca-kemerdekaan Indonesia. Belanda tidak bisa bersikap netral terhadap
           agama-agama di negara jajahannya, sebagaimana ia janjikan, melainkan lebih
           berpihak terhadap kelompok seagama. 12

           Kristenisasi terjadi di banyak tempat, dan difasilitasi pemerintah kolonial
           secara finansial maupun politik sebagaimana terlihat pada pemberian subsidi
           besar-besaran terhadap pembangunan rumah sakit  zending  (misionaris)  dan
           pembukaan wilayah bagi  zending di Solo semasa pemerintahan Gubernur
           Jenderal  Idenburg  (1909-1916).   Maka meskipun  Kantoor voor Inlandsche
                                          13
           Zaken di bawah Snouck Hurgronje menerbitkan keputusan yang melarang
           kristenisasi di daerah-daerah yang sangat kuat Islamnya, seperti Aceh, eskalasi
           kristenisasi begitu cepat merambah daerah-daerah lain.
                                                               14
           Dengan perbedaan intensitas dan ragam kegiatan, kristenisasi kemudian tetap
           berlangsung meski Belanda hengkang dari Nusantara pada 1942. Dekade 1960-
           70-an tercatat sebagai masa ketika kristenisasi kembali dilakukan secara intensif
           dan memantik perselisihan dan saling curiga antara umat Islam dan Kristen
           sampai mengakibatkan polemik keagamaan. Ini jelas menjadi persoalan serius
           dalam konteks kerukunan antar-umat beragama. Maka penciptaan kerukunan
           beragama menjadi salah satu fungsi utama Kementerian agama.

           Menyusul polemik perumusan dasar negara di tahun-tahun awal kemerdekaan—
           yang sedikit banyak terkait dengan isu hubungan antar-agama di Indonesia—
           hubungan Islam-Kristen juga makin memanas, bahkan berpotensi melahirkan
           konflik.  Untuk  itu,  pemerintah  membuat  program  guna meredakan  atau
           mengatasi permasalahan tersebut. Dua tahun setelah dikeluarkannya UU PNPS
           1965, pada 1967 Kementerian Agama di bawah KH. Muhammad Dahlan
           menginisiasi penyelenggaran dialog antar-agama. Namun, program ini tidak
           dilandasi konsep yang kokoh ditambah intensitas pelaksanaan yang masih sangat
           terbatas. Kementerian Agama kemudian merumuskan ulang konsep dialog
           antar-agama  pada  periode  Mukti  Ali  (1971-1978).  Dengan  pengoperasian
           berbagai program, seperti dialog itu sendiri, seminar, penelitian, dan publikasi
           dalam rangka mengembangkan kehidupan yang harmonis antar-agama,
           masa ini dianggap sebagai peletak dasar model pembangunan kerukunan umat
           beragama. Dan Mukti Ali adalah pionir dialog antar-agama di Indonesia.
                                                                                   15
           Sejak itu, proyek dialog antar-agama menjadi salah satu program utama
           Kementerian, yang terus dilakukan pada periode kepemimpinan Menteri
           Agama berikutnya.











                                                                                                 347
   358   359   360   361   362   363   364   365   366   367   368