Page 367 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 367

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           agama, ormas keagamaan dan masyarakat, membuat rekomendasi untuk kepala
           daerah, mensosialisasikan kebijakan terkait kerukunan umat beragama, dan
           memberikan rekomendasi tertulis atas permohonan pendirian rumah ibadah.
           Selain peran sentral di atas, FKUB juga masih memiliki peran yang terlihat
           lebih praktis dan taktis yang tentunya juga sangat sentral dalam pembentukan
           kerukunan umat beragama di Indonesia. Di sini, FKUB misalnya diberi tugas yang
           sangat jelas yaitu untuk 1) mendeteksi secara dini dan memetakan gangguan
           kerukunan beragama; 2) meredam dan mencari solusi terhadap gangguan yang
           timbul;  dan  3)  mengidentifikasi  dan  merefitalisasi  kearifan  lokal  yang  dapat
           mendukung kerukunan umat beragama.    20

           Meski begitu, beberapa kalangan memberikan catatan kritis bahkan
           menyimpulkan  program dialog antar-agama kurang mengakar dan tidak            Meski begitu, beberapa
                                                                                         kalangan memberikan
           berperan signifikan di level masyarakat. Catatan kritis ini mengaca pada sejumah   catatan kritis bahkan
           peristiwa di beberpa daerah seperti Situbondo, Tasikmalaya, Ketapang, Kupang,   menyimpulkan program
           Ambon, Poso, dan Maluku, di mana terjadi kekerasan berlatar sentimen           dialog antar-agama
                                                                                           kurang mengakar
           agama di tahun 2000-an, terutama Islam versus Kristen. Hal ini terjadi karena   dan tidak berperan
           dialog  antar-agama masih  menyimpan  beberapa kendala  praktis.  Beberapa      signifikan di level
                                                                          21
                                                                                          masyarakat. Catatan
           di  antaranya  adalah  bahwa  dialog  yang  diselenggarakan  masih  cenderung   kritis ini mengaca pada
           bersifat diskursif dan elitis, tidak ada keseriusan mengejawantahkan isu dialog,   sejumah peristiwa
           masih terdapat kesenjangan antara kelompok elit agama dengan mediator           di beberpa daerah
                                                                                           seperti Situbondo,
           di lapangan, masih kentalnya prejudice negative antar-penganut agama, dan     Tasikmalaya, Ketapang,
           masih lebarnya kesenjangan sosial-ekonomi serta rendahnya rasa keadilan         Kupang, Ambon,
           terhadap masyarakat. Mantan Menteri Agama Thalchah Hasan sendiri menilai        Poso, dan Maluku.
           bahwa pembinaan kerukunan umat beragama yang ada selama ini cenderung            Mantan Menteri
           hanya berorientasi struktural dan politis.                                    Agama Thalchah Hasan
                                                22
                                                                                         sendiri menilai bahwa
                                                                                         pembinaan kerukunan
                                                                                            umat beragama
           FKUB di sisi lain belum berhasil memfungsikan diri sebagai pendeteksi, peredam   yang ada selama ini
           dan pemberi solusi atas gangguan kerusuhan atau konflik sektarian berlatar      cenderung hanya
           belakang agama. Tindak kekerasan yang dialamatkan oleh kelompok Islam         berorientasi struktural
           radikal terhadap beberapa kelompok minoritas seperti Jamaat Ahmadiyah              dan politis.
           Indonesia (JAI) di Jawa Barat, Lombok dan Banten, Syiah di Madura, dan konflik
           serta kekerasan berlatar perijinan pendirian rumah ibadah di Bogor dan Bekasi,
           dan lain-lain adalah bukti tidak berfungsinya FKUB di daerah-daerah.
                                                                           23
           Pada beberapa kasus di atas, tidak fair jika hanya menyalahkan atau memberi
           kredit negatif kepada FKUB. Hal ini karena pada faktanya, sebagaiman jelas
           terlihat pada kasus Ahmadiyah, para pelaku tindak kekerasan, pembakaran
           sampai pembunuhan mengaku mendapatkan justifikasi atas perbuatannya dari
           Fatwa yang dikeluarkan oleh MUI (2005) dan Surat Keputusan Bersama (SKB)
           Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, dan Jaksa Agung tentang penyesatan
           dan penghentian semua aktivitas penyebaran Ahmadiyah di Indonesia (2008).
           Mereka mendahului aparat hukum yang diberi kewenangan untuk melakukan
           tindakan atas kemungkinan pelanggaran peraturan. Dan mereka main hakim






                                                                                                 351
   362   363   364   365   366   367   368   369   370   371   372