Page 370 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 370

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Pendidikan, Peradilan dan Haji


                                    Di samping kerukunan beragama, Kementerian agama juga mempunyai tugas
                                    besar untuk menangani pendidikan Islam, penyelenggaraan Pengadilan agama,
                                    mensukseskan ibadah haji warga negara Indonesia, dan beberapa hal terkait
                                    permasalahan keagamaan lain. Urusan pendidikan, pengadilan dan haji sendiri
                                    sudah menjadi perhatian serius sejak jaman kerajaan-kerajaan Islam Nusantara
                                    dan pemerintahan kolonial Belanda. Pengawasan terhadap pendidikan Islam di
                                    Indonesia dilakukan oleh pemerintahan kolonial Belanda dengan diterbitkannya
                                    Peraturan tentang Pendidikan Islam pada tahun 1905, yang berisi aturan rinci
                                    dan ketat soal perijinan dan guru agama.  Oleh karenanya, meski Islam menjadi
                                                                          30
                                    agama yang dianut mayoritas penduduk pribumi, pendidikan Islam selalu berada
                                    pada posisi terpinggirkan, berbeda dengan pendidikan Kristen yang mendapat
                                                                                                             31
                                    berbagai bantuan fasilitas dari pemerintahan Hindia Belanda, selain dari gereja.
                                    Kebijakan pemerintah Indonesia pasca-kemerdekaan sampai dekade 1960-
                                    an belum dapat menggeser posisi pendidikan Islam yang marginal, apalagi
                                    menjadi sentral. Hal ini terjadi, sebagaimana dipaparkan sebelumnya, karena
                                    kekurangberpihakannya pemerintah terhadap kelompok Islam.


                                    Masa Kementerian Agama dipegang Mukti Ali pada dekade 1970-an, kebijakan
                                    pemerintah  untuk  pendidikan Islam  mulai  memperlihatkan perubahan.
                                    Dikeluarkannya SKB tiga menteri (Menteri Agama, Pendidikan dan Kebudayaan,
                                    dan  Dalam  Negeri)  No.  6  tahun  1975  adalah  turning point  dari perubahan
                                                     32
                                    pendidikan Islam.  SKB ini menghendaki agar pilar pendidikan Islam  yang
                                    dinamakan madrasah posisinya disamakan dengan jenjang-jenjang pendidikan
                                    di sekolah umum. Sebagai imbas, porsi kurikulum madrasah kemudian diubah
                                    menjadi 70 persen pelajaran umum dan sisanya pelajaran agama. Poin inilah
                                    yang menjadi awal modernisasi pendidikan Islam, yang kemudian mendapatkan
                                    penegasan lebih kuat dengan diterbitkannya Undang-undang Sistem Pendidikan
                                    Nasional (UU Sisdiknas) pada tahun 1989. Dalam UU ini, madrasah dan sekolah
                                    umum adalah jenjang pendidikan yang setara.  Kesetaraan tersebut bahkan
                                                                                 33
                                    dipertegas dengan pernyataan bahwa madrasah sejatinya adalah “pendidikan
                                    umum” yang bercirikan keislaman. Setelah periode ini,  booming pendidikan
                                    modern Islam merambah ke berbagai daerah di Indonesia. Maka, penerbitan UU
                                    Sisdiknas 2003-pun tak lain menjadi penegasan baru atas proses establishment
                                    pendidikan Islam dalam konteks pembangunan manusia Indonesia secara
                                    keseluruhan.

                                    Peradilan Agama juga berakar dari sejarah panjang bangsa sejak kerajaan Islam
                                    dan masa kolonial. Setelah kerajaan-kerajaan Islam ditaklukkan oleh kolonial
                                    Belanda, eksistensi peradilan agama diatur pemerintah kolonial lewat penerbitan
                                    Staatsblad No. 152/1882 soal peradilan  agama dan hukum Islam.  Dari sini
                                                                                                    34
                                    campur tangan Hindia Belanda terhadap persoalan agama mulai terasa. Periode
                                    berikutnya, menempatkan posisi hakim dan peradilan agama ke dalam urusan
                                    di  bawah  Hofd  voor  Islamietische  Zaken  dan diawasi  oleh badan  penasehat





                    354
   365   366   367   368   369   370   371   372   373   374   375