Page 375 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 375

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           Majelis  Ulama  Indonesia  (MUI),  sebagaimana  tertuang  dalam  situs  resminya,
           adalah  sebuah  organisasi  sosial  kemasyarakatan  yang  berfungsi  sebagai
           wahana bagi para ulama, zuama, dan cendekiawan Muslim Indonesia untuk
           menyatukan gerak dan langkah umat Islam Indonesia dalam mewujudkan cita-
           cita bersama. Pedoman Dasar MUI hasil kongres pertama menyatakan bahwa
           tujuan dasar dari MUI adalah untuk turut serta mewujudkan masyarakat yang
           adil dan makmur serta aman dan damai (Pasal 2). Sementara itu pada situs MUI
           dinyatakan bahwa peran MUI adalah memberikan nasihat dan fatwa mengenai
           masalah keagamaan dan kemasyarakatan kepada pemerintah dan masyarakat,
           meningkatkan kegiatan bagi terwujudnya  ukhwahIslamiyah dan kerukunan
           antar-umat beragama dalam memantapkan persatuan dan kesatuan bangsa,
           menjadi penghubung antara ulama dan umara (pemerintah) sekaligus sebagai
           penerjemah timbal balik antara umat dan pemerintah guna mensukseskan
           pembangunan  nasional,  serta  meningkatkan  hubungan  dan  kerjasama  antar
           organisasi, lembaga Islam dan cendekiawan Muslim dalam memberikan
           bimbingan dan tuntunan kepada masyarakat, khususnya umat Islam, dengan
           mengadakan konsultasi dan informasi secara timbal balik. 47

           MUI merupakan organisasi keulamaan di mana anggotanya berasal dari organisasi
           masyarakat (ormas) keislaman seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah,         MUI merupakan
           al-Irsyad, al-Washliyah, Persatuan Islam (Persis), Pergerakan Tarbiyah Islamiyah   organisasi keulamaan
                                                                                          di mana anggotanya
           (PERTI), dan lain-lain. Sejak berdirinya sampai sekarang, beberapa tokoh yang   berasal dari organisasi
           pernah menjabat sebagai ketua umum MUI adalah Prof. Dr. Hamka, KH. Syukri      masyarakat (ormas)
                                                                                           keislaman seperti
           Ghozali, KH. Hasan Basri, Prof. KH. Ali Yafie, KH. M. Sahal Mahfudh, dan Prof.   Nahdlatul Ulama (NU),
           Dr. Din Syamsuddin. Sebagai kelengkapan organisasi, sebagaimana tercantum      Muhammadiyah, al-
           dalam  website-nya,  MUI  memiliki  12  Komisi  yang  membidangi  1)  fatwa,  2)   Irsyad, al-Washliyah,
           ukhuwah islamiyah, 3) dakwah dan pengembangan masyarakat, 4) pendidikan      Persatuan Islam (Persis),
                                                                                          Pergerakan Tarbiyah
           dan kaderisasi, 5) pemberdayaan ekonomi umat, 6) informasi dan komunikasi,      Islamiyah (PERTI),
           7) perempuan, remaja dan keluarga, 8) hukum dan perundang-undangan, 9)          dan lain-lain. Sejak
                                                                                           berdirinya sampai
           pengkajian dan penelitian, 10) kerukunan antar umat beragama, 11) pembinaan    sekarang, beberapa
           seni budaya Islam, dan 12) hubungan luar negeri dan kerja sama internasional.   tokoh yang pernah
           Di samping itu, MUI juga memiliki beberapa lembaga seperti Dewan Syariah     menjabat sebagai ketua
                                                                                           umum MUI adalah
           Nasional  (DSN)  yang  berkonsentrasi  pada  aktivitas  perekonomian  berlabel   Prof. Dr. Hamka, KH.
           syariah,  Lembaga  Pengkajian  Pangan,  Obat-obatan  dan  Kosmetika  (LP-POM)   Syukri Ghozali, KH.
           sebagai pemroduksi sertifikat halal, Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan   Hasan Basri, Prof. KH.
           Sumber Daya Alam (PLH-SDA) dan lain-lain.                                     Ali Yafie, KH. M. Sahal
                                                                                         Mahfudh, dan Prof. Dr.
                                                                                            Din Syamsuddin.
           Secara umum, hal paling fundamental yang melekat pada MUI adalah fungsinya
           sebagai pemberi fatwa (mufti). Di dalam tubuh MUI sendiri, sumber fatwa ini
           bermacam-macam. Ia bisa merupakan fatwa yang dikeluarkan oleh komisi fatwa
           MUI; bisa juga fatwa dari DSN, fatwa ijtima’ ulama, dan fatwa hasil musyawarah
           nasional MUI. Selain fatwa, model keputusan yang dikeluarkan oleh MUI
           berbentuk rekomendasi (tausyiah), peringatan (tadzkirah), instruksi atau mandat
           (amanah),  pernyataan sikap, himbauan, dan sumbangan pemikiran.







                                                                                                 359
   370   371   372   373   374   375   376   377   378   379   380