Page 373 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 373

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           1980-an memunculkan pelaksanaan ibadah haji eksklusif yang dikenal dengan
           program ONH Plus. Namun, masalah penyelenggaran haji tetap muncul, maka
           UU soal penyelenggaraan haji kembali dikeluarkan pemerintah lewat UU No.
           17/1999 yang kemudian disempurnakan lagi dengan revisi atas UU tersebut
           yang menghasilkan UU nomor 13/2008 yang kembali menegaskan prinsip dan
           pelaksana penyelenggaraan haji.












           Majelis Ulama Indonesia (MUI)





           Seperti telah disinggung sebelumnya, masa-masa awal pemerintahan rezim
           Orde Baru memperlihatkan sikap yang tidak ramah terhadap kekuatan Islam.
           Pembekuan  Majelis  Syuro  Muslimin  Indonesia  (Masyumi)  di  era  Sukarno
           tidak lantas membuat kekuatan Islam politik terjinakkan, setidaknya di mata
           pemerintah  Orde  Baru.  Maka  menjelang  pemilihan  umum  (Pemilu)  1971,
           Soeharto memerintahkan Ali Murtopo, Amir Mahmud dan Kopkamtib untuk
                                                    40
           memastikan  kemengan Golkar  di Pemilu.  Murtopo  diminta  mencampuri
           pemilihan kepemimpinan PNI sementara kepemimpinan Partai Muslimin
           Indonesia (Parmusi), salah satu partai Islam, harus di tangan orang yang bisa
           dipercayai Soeharto. Komkamtib menyortir kandidat dari partai-partai politik     Pada Juli 1975,
                                                                                             Kementerian
           dan mendiskualifikasi 20 persen di antaranya yang dianggap tidak bisa           Agama kemudian
           dipercaya penguasa. Intimidasi terhadap para pemimpin Islam di daerah untuk    menyelenggarakan
                                                                                          Konferensi Nasional
           memilih Golkar juga dilakukan menjelang pemilihan umum.  Karena itu, Pemilu   Ulama Indonesia sejak
                                                                  41
           1971 ibarat pertarungan kubu Islam versus pemerintah yang sekular. Golkar       tanggal 21 sampai
           akhirnya keluar sebagai pemenang suara mayoritas pada Pemilu tersebut            dengan 27. Pada
           dengan memperoleh 62,8 persen total suara (65,6 persen kursi di parlemen).   tanggal 26 Juli, Kongres
                                                                                         yang dihadiri oleh para
           Sementara perwakilan Islam hanya memunculkan Partai NU sebagai pemeroleh       ulama, cendekiawan
           suara terbanyak dengan 18,7 persen. 42                                        Muslim dan perwakilan
                                                                                         para dinas kerohanian
                                                                                            Islam di bawah
           Kecurigaan akan ketakramahan rezim terhadap politik Islam semakin menguat      Angkatan Bersenjata
           setelah pada Januari 1973 rezim Orde Baru mengeluarkan kebijakan peleburan      Republik Indonesia
           (fusi)  partai-partai  politik.  Sehingga, untuk mengendalikan politik nasional,   (ABRI)— kini menjadi
                                   43
                                                                                            Tentara Nasional
           pemilu berikutnya hanya diikuti oleh tiga peserta yaitu Golkar, Partai Demokrasi   Indonesia (TNI)—
           Indonesia  (PDI,  yang  merupakan  peleburan  dari  partai-partai  nasionalis  dan   berhasil menyepakati
           kristen), serta Partai Persatuan Pembangunan (PPP, peleburan dari partai-partai   pendirian MUI dan
                                                                                           mengangkat Buya
           Islam,  terutama  Parmusi  dan  NU).  Pada  saat  yang  sama,  intimidasi  terhadap   Hamka sebagai ketua
           tokoh-tokoh Islam di daerah terus dilakukan. Rezim pemerintahan saat itu tampak   umum pertamanya.
           masih menganggap kekuatan Islam sebagai tandingan utama dalam perebutan




                                                                                                 357
   368   369   370   371   372   373   374   375   376   377   378