Page 368 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 368

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    sendiri  dengan  berdalih  untuk  menegakkan hukum  dan  membumikan  Islam
                                    dari penyesatan. Parahnya lagi, aparat keamanan tidak bergerak antisipatif dan
                                    cenderung mendiamkan  tindakan tersebut, meski telah  mengetahui potensi
                                    kekerasan. 24

                                    Oleh karena itu, beberapa kalangan dari LSM pro-HAM dan demokrasi,
                                    tokoh intelektual, agama dan hukum, menuding bahwa SKB Ahmadiyah, dan
                                    dengan demikian Kementerian Agama, telah mencampuri urusan intern (forum
                                    internum) dan ekstern (forum externum) umat beragama. Padahal, Kementerian
                                    Agama menjelaskan  dengan gamblang bahwa yang menjadi  perhatiannya
                                    dalam konteks kerukunan beragama adalah pengelolaan urusan ekstern, bukan
                                    intern umat beragama. 25


                                    Soal kekerasan dan tindak main hakim sendiri sebagai ekses dari kebijakan
                                    pemerintah, penting ditekankan bahwa UU No. 1 PNPS 1965 sendiri—sebagai
               Menteri Agama,       referensi utama kebijakan pemerintah terkait pengelolaan kerukunan beragama
               Suryadharma Ali
              menyatakan bahwa      dan SKB—pada bagian akhirnya “memperingatkan dan memerintahkan warga
               kasus Ahmadiyah      masyarakat pada umumnya untuk menjaga dan memelihara kerukunan umat
              tidak bisa dibiarkan   beragama serta ketentraman dan ketertiban kehidupan bermasyarakat dengan
                berlarut-larut,
             karena itu sama saja   tidak melakukan perbuatan dan/atau tindakan melawan hukum terhadap
              dengan memelihara     penganut, anggota, dan/atau anggota pengurus JAI.” Namun, pengrusakan
            masalah. Menurutnya,    dan tindak kekerasan fisik terhadap kelompok agama minoritas tetap
                membubarkan
             Ahmadiyah memang       terjadi. Masalahnya kemudian menjadi makin runyam, ketika tokoh MUI dan
               beresiko, tetapi     Kementerian Agama sendiri balik menyalahkan JAI sebagai korban. Menurut
               membiarkannya        laporan Bagir dkk. dengan berpangkal pada UU PNPS dan SKB, Menteri Agama,
             juga tak kalah besar   Suryadharma Ali menyatakan bahwa kasus Ahmadiyah tidak bisa dibiarkan
               resikonya. Maka
                                                                                                26
              pada Agustus 2010     berlarut-larut, karena itu sama saja dengan memelihara masalah.  Menurutnya,
               Menteri Agama        membubarkan Ahmadiyah memang beresiko, tetapi membiarkannya juga tak
            kemudian mengatakan     kalah  besar  resikonya.  Maka  pada  Agustus  2010  Menteri  Agama  kemudian
             dengan tegas bahwa
              pemerintah harus      mengatakan dengan tegas bahwa pemerintah harus membubarkan JAI.
              membubarkan JAI.
                                    Kekerasan berdalih hukum dan usaha menjaga kerukunan yang terus dipraktikkan
                                    kelompok radikal yang mendapat angin segar dari pemerintah (Kementerian
                                    Agama) dan MUI sudah terlalu jauh membawa Indonesia kembali pada ortodoksi
                                    sikap beragama. Atas perkembangan tersebut, beberapa kalangan kemudian
                                    menganggap bahwa UU PNPS sebagai pangkal dari kebijakan kerukunan umat
                                    beragama dianggap bermasalah, bertentangan dengan konstitusi dasar negara
                                    UUD 1945 dan Deklarasi Internasional tentang Hak Asasi Manusia (DUHAM),
                                    dan merugikan terutama kelompok minoritas agama. Untuk itu, pada 2009
                                    tujuh LSM dan beberapa orang individu mengajukan uji materil tentang UU PNPS
                                    ini ke Mahkamah Konstitusi (MK). Hal ini kemudian mengundang perdebatan
                                    hangat  di  kalangan  Ormas,  tokoh agama,  maupun  aktivis Islam  dan HAM.
                                    Sayang, setelah melewati proses persidangan dan mendengarkan pendapat
                                    para pakar yang digelar sejak 4 Februari hingga 24 Maret 2010, usaha uji materil
                                    menemui kegagalan karena amar putusan MK kemudian menyatakan menolak
                                    segala permohonan para pemohon dalam uji materil tersebut.
                                                                                              27


                    352
   363   364   365   366   367   368   369   370   371   372   373