Page 369 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 369

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           Meski begitu, sebelum sampai pada kesimpulan putusannya, MK sendiri
           sebenarnya memiliki tiga sikap terhadap UU PNPS ini: pertama, UU tersebut
           konstituional dan karenanya perlu dipertahankan; kedua, UU tersebut
           konstituional, tetapi perlu mendapatkan revisi; dan ketiga, UU tersebut
           inkonstitusional,  makanya  harus  dibatalkan  dan  dicabut  (Mudzhar  2010).
           Pendapat pakar sendiri secara umum terbelah menjadi dua mainstream.
           Kelompok yang pro uji materi berargumen bahwa kebebasan beragama perlu
           benar-benar dijamin dan diimplementasikan, dan negara dalam konteks urusan
           agama hendaknya tidak turut campur. Sementara kelompok yang kontra uji materi
           berargumen bahwa tanpa UU itu penodaan terhadap agama dikhawatirkan
           akan terjadi dengan lebih leluasa dan menyebabkan ketidakrukunan antar-
           kelompok agama yang lebih parah, karenanya Indonesia sebagai negara yang
           bukan negara sekular, perlu melindungi agama. 28

           Kementerian  agama—sebagaimana  terlihat  pada  kasus  konflik  sektarian
           berbasis  agama—terkesan  bukannya  menjadi  peredam  dan  pemberi  solusi
           atas gangguan kerukunan beragama, malah menjadi salah satu pemicu dari
           hadirnya gangguan itu sendiri. Meski begitu, beberapa capaian positif juga
           patut dicatat sebagai kontribusi kementerian ini dalam usaha mewujudkan
           kerukunan beragama. Catatan positif lain kementerian bermoto Ikhlas Beramal
           ini  misalnya  diberikan  pada  keputusannya  soal  Konghucu.  Sebagaimana
           diketahui, pembatasan ruang gerak umat Khonghucu Indonesia mulai dari
           penentuan identitas diri, penyelenggaraan ibadah keagamaan, sampai dengan
           adat istiadatnya telah terjadi sejak diberlakukannya Instruksi Presiden RI No.
           14 Tahun 1967. Lebih dari 30 tahun mereka harus meleburkan diri ke dalam
           bagian dari agama lain gara-gara kebijakan pemerintah. Kabar baik bagi mereka
           kemudian datang lewat Keputusan Presiden Abdurrahman Wahid No. 6/2000
           yang menetapkan pencabutan atas larangan yang diberlakukan kepada pemeluk
           Konghucu, kemudian Kepres No. 19/2002 yang menyatakan Imlek sebagai Hari
           Nasional, dan Keputuasan Menteri Agama No. 331/2002 yang menetapkan Hari
           Raya Imlek sebagai Hari Libur Nasional.

           Demikianlah, Konghucu diakui sebagai salah satu agama resmi di Indonesia
           dan hari rayanya menjadi hari libur nasional lewat kebijakan baru pemerintah
           tersebut. Namun, kebebasan bagi seluruh penganutnya di Indonesia belum benar-
           benar dapat terwujudkan. Hak beragama dan hak-hak sipil seluruh penganut
           Khonghucu baru terpenuhi secara faktual setelah Menteri Agama mengirimkan
           surat bernomor 12/MA/2006 tanggal 24 Januari 2006 kepada Menteri Dalam
           Negeri dan Menteri Pendidikan Nasional tentang Penjelasan mengenai Status
           Perkawinan Menurut Agama Khonghucu dan Pendidikan Agama Khonghucu.
           Lewat surat ini perkawinan umat Konghucu dinyatakan syah di hadapan kantor
           catatan sipil, dan pendidikan agama bagi umatnya difasilitasi oleh pemerintah. 29










                                                                                                 353
   364   365   366   367   368   369   370   371   372   373   374