Page 374 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 374

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    tampuk kepemimpinan negara. Soeharto sendiri sejatinya tidak menampik
                                    potensi dan pengaruh besar para tokoh Islam (ulama) di tengah masyarakat.
                                    Oleh sebab itu, ia menghendaki agar kelompok elit Islam ini berada di belakang
                                    barisannya, sekaligus mendukung kebijakan-kebijakan yang dibuatnya.

                                    Sadar akan hal tersebut, Soeharto kemudian menginisiasi pembentukan
                                    semacam lembaga perkumpulan para ulama yang pertama kali dimunculkan
                                    pada konferensi nasional organisasi bentukan Kementerian Agama yang
                                    bernama Pusat Dakwah Islam Indonesia (PDII) pada tahun 1970. Usulan tersebut
                                    bukannya mendapat respon positif, malah memantik kecurigaan besar di
                                    kalangan Muslim Indonesia, bahwa niatan rezim Orde Baru tersebut tidak lain
                                    hanyalah strategi baru untuk benar-benar memusnahkan kekuatan politik Islam
                                    di Indonesia.  Namun, rezim tidak bergeming. Ia malah kembali menguatkan
                                                44
                                    ide pembentukan majelis ulama ini pada konferensi PDII berikutnya di tahun
                                    1974.  Setahun  setelahnya  (1975),  Soeharto  kembali  melontarkan  dukungan
                                    pembentukan  majelis  tersebut  di  hadapan  Dewan  Masjid  Indonesia  (DMI).
                                    Menindaklanjuti usulan Presiden, di tahun itu juga, Menteri Dalam Negeri
                                    memerintahkan semua provinsi dan kabupaten/kota untuk membentuk majelis
                                    ulama-nya masing-masing.  Pada Juli 1975, Kementerian Agama kemudian
                                                              45
                                    menyelenggarakan Konferensi Nasional Ulama Indonesia sejak tanggal 21
                                    sampai dengan 27. Pada tanggal 26 Juli, Kongres yang dihadiri oleh para ulama,
                                    cendekiawan  Muslim  dan  perwakilan  para  dinas  kerohanian  Islam  di  bawah
                                    Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI)— kini menjadi Tentara Nasional
                                    Indonesia (TNI)— berhasil menyepakati pendirian MUI dan mengangkat Buya
                                    Hamka sebagai ketua umum pertamanya.    46



           Kantor Majelis Ulama Indonesia
           (MUI) berlokasi di Jl. Proklamasi
           no. 51, Menteng, Jakarta Pusat.
           Sumber: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.





























                    358
   369   370   371   372   373   374   375   376   377   378   379