Page 377 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 377

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           yang dikeluarkan MUI. Fatwa ini sendiri disahkan MUI pada 7 Maret 1981.
           MUI mendasarkan keputusannya pada ajaran Islam yang bersumber dari al-
           Quran dan Hadits Nabi. Dalam keputusannya, pertama-tama MUI menyatakan
           bahwa hubungan antara Muslim dan umat Nasrani hanya diperbolehkan ketika
           menyangkut urusan duniawi.  Tiga ayat al-Quran (QS 49: 13, 31:15, dan 60:8)
                                      54
           dikutip sebagai landasan dari pernyataan tersebut.

           Selanjutnya, MUI menyatakan bahwa seorang Muslim tidak boleh
           mencampuradukkan ibadah dan keyakinan teologisnya dengan keyakinan
           agama lain. Untuk hal ini, QS al-Kafirun (106): 1-6 dan al-Baqarah (QS 2): 42
           dijadikan landasan. Untuk membantah konsep ketuhanan Nasrani, beberapa ayat
           al-Quran soal Yesus dan Siti Mariam dikutip untuk pada akhirnya menyatakan
           bahwa perayaan Natal tak bisa dilepaskan dari konsep ketuhanan Yesus yang
           bertentangan dengan ayat al-Quran. Sehingga, partisipasi umat Islam pada
           perayaan tersebut dapat mengakibatkan pada munculnya sikap sinkretis dan
           menyebabkan ketakmurnian ketauhidan umat.

           Akhirnya, Hadits Nabi soal anjuran untuk menjauhi hal-hal yang tidak jelas
           definisi  hukum  Islamnya  (subhat)  kemudian  dinukil  sebagai  basis  dalil  untuk
           menjustifikasi bahwa karena berpartisipasi dalam perayaan Natal adalah subhat,
           maka Muslim dianjurkan untuk menjauhinya. Hal ini kemudian diperkuat dengan
           kaidah hukum Islam yang mengatakan bawha “mengelak dari bahaya lebih
           diutamakan ketimbang berusaha mengambil keuntungan”. Dengan alasan
           sebagaimana disebutkan di atas, MUI akhirnya memutuskan bahwa haram
           hukumnya atau terlarang bagi umat Islam untuk berpartisipasi dalam perayaan
           Natal. Selain fatwa haram menghadiri Natalan umat Nasrani, semasa rezim
           otoriter-Orde Baru MUI cenderung mengeluarkan fatwa terkait persoalan fiqih
           dan masalah sosial-kemasyarakatan. Hampir tidak muncul fatwa yang bersifat
           atau mengandung unsur politik dan praktik bernegara seperti yang kemudian
           terlihat pada fase berikutnya. Dalam hal-hal yang disebutkan terakhir, MUI
           cenderung bersikap diam.
                                   55
           Sikap diam MUI tersebut menunjukkan ketakberdayaan MUI dan umat
           Islam  Indonesia  di  hadapan  rezim  Orde  Baru.  Beberapa  contoh  yang  dapat
           dikedepankan untuk konteks ini adalah sikap diam MUI pada kasus undian
           berhadiah  di  cabang  sepak  bola  (Porkas)  yang  disponsori  pemerintah  dan
           tragedi pembunuhan warga Tanjung Priok pada 1984 yang juga melibatkan
           aparat negara. Pada kasus pertama, protes mayoritas umat Islam dan pernyataan
           haram atas Porkas yang dilontarkan NU dan Muhammadiyah sama sekali tidak
           disambut MUI.  Sebaliknya, ketua komisi fatwa MUI saat itu, Ibrahim Hosen,
                         56
           berargumen  bahwa  dampak  negatif  judi  yang  dilarang  Islam (maysir)  adalah
           berbeda dengan Porkas yang justru membantu pemerintah untuk memfasilitasi
           kegiatan bermanfaat lain di sektor olahraga dan kepemudaan, dan karenanya
           Porkas diperbolehkan. Di sini jelas bahwa MUI lebih mematuhi pemerintah yang
           otoriter ketimbang mengikuti nurani umat.





                                                                                                 361
   372   373   374   375   376   377   378   379   380   381   382