Page 379 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 379

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           mengeluarkan UU No. 7 tentang perbankan. Turunan dari UU ini, Peraturan
           Pemerintah No. 72/1992 ayat 5 menyatakan bahwa Bank yang menerapkan
           prinsip  dasar  bagi  hasil  (yang  diklaim  sebagai  prinsip  dasar  perbankan  Islam
           untuk  menghindari  riba  yang  diharamkan  agama)  dalam  manajemennya
           diharuskan memiliki atau mengangkat seorang DPS.
                                                            58
           Penjelasan lebih detil soal DPS sendiri kemudian muncul pada 1999 lewat
           Peraturan Pemerintah No. 30 pada tahun yang sama. Isinya menyatakan bahwa
           DPS harus bersifat independen dari manajemen bank. Ia harus memiliki otoritas
           secara internal untuk menentukan apakah suatu produk perbankan, layanan
           dan aktivitas sebuah bank sesuai dengan hukum syariah. Orang dan lembaga
           yang dianggap mengerti betul dan paling representatif untuk hal ini adalah MUI.
           Maka di seluruh bank yang memiliki produk syariah, di dalamnya pasti terdapat
           seseorang yang berasal dari MUI yang menjadi DPS dari bank tersebut. Ini adalah
           proyek yang hingga kini dianggap paling besar yang dapat dilakukan MUI,
           karena dapat menghasilkan dana yang cukup banyak dan menempatkan begitu
           banyak orang MUI pada posisi-posisi strategis di dunia perbankan. Sesuatu yang
           sebelum era 1990-an tidak pernah dilakukan oleh institusi ulama ini.


           Proses di era 1990-an ini akhirnya berujung pada pengakuan eksplisit
           pemerintah pada lembaga perbankan Islam lewat penerbitan UU No. 10/1998.
           Pengakuan lebih luas kemudian hadir di era Reformasi setelah DPR menyetujui
                                                                        59
           dan mengesahkan UU No. 21/2008 tentang Perbankan Syariah.  Setelah ini,
           bank syariah memiliki kedudukan yang sama dengan bank-bank konvensional
           dan produk syariah pun kemudian diperbolehkan untuk dibuka di segala jenis
           produk perbankan. Namun demikian, perselisihan dan tumpang tindih antara BI
           sebagai penguasa perbankan tertinggi di Indonesia dan MUI sebagai lembaga
           yang menggawangi sekaligus “memproduksi” DPS kerap terjadi. Pada beberapa
           isu pokok BI kadang mengeluarkan sendiri kebijakan terkait perbankan Islam,
           meski sebagian besar masih sangat bergantung kepada DPS MUI, yang diklaim
           paling berotoritatif untuk masalah ini. 60

           Di atas segalanya, program-program MUI masa Orde Baru dapat dilihat secara
           sistematis dari hasil konferensi nasional MUI 1995. Dari even ini terlihat bahwa
           pada garis besarnya, program MUI terbagi ke dalam dua kutub, yaitu fungsional
           dan institusional.  Kutub pertama merupakan pengejawantahan dari tugas
                           61
           tradisional MUI sebagai pemberi nasehat bagi pemerintah dan masyarakat,
           yang kemudian terejawantahkan dalam bentuk penguatan ukhuwah islamiyah,
           pendidikan Islam, pengawasan terhadap aktivitas penyebaran agama, juga
           soal ekonomi dan identitas Islam. Sementara kutub kedua meliputi kegiatan-
           kegiatan yang lebih bersifat praktis, semisal dakwah sebagai usaha partisipatif
           membangun  masyarakat,  pembentukan  wadah  pendanaan Islami,  termasuk
           bank Islam, dan ekstensifikasi model pengayaan dan training bagi para ulama.








                                                                                                 363
   374   375   376   377   378   379   380   381   382   383   384