Page 383 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 383

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           sanggup memperjuangkan kepentingan umat, bangsa dan negara. 2) Ajakan
           untuk memilih partai politik yang secara serius mencalonkan kandidat-kandidat
           yang  beragama  Islam.  3)  Ajakan  untuk  menentang  kembalinya  Komunisme,
           otoritarianisme  dan pemerintahan  sekular, di mana hal ini ditujukan  pada
           tentangan untuk memilih partai politik yang memiliki kebencian terhadap Islam.
           Tausyiah terakhir ini memperlihatkan kejelasan dukungan MUI dengan ajakan
           kepada umat Islam untuk memilih partai politik yang memperjuangkan aspirasi
           umat dan bangsa serta menginstruksikan Muslim untuk tidak memilih pemimpin
           yang non-Islam atau partai politik yang didominasi oleh kandidat non-Islam.


           Instruksi MUI terakhir ini merupakan respon dari diunggulkannya PDIP pimpinan
           Megawati Sukarno Putri untuk memenangkan pemilu, sementara oleh MUI
                                                                                   69
           dianggap sebagai  partai politik  yang didominasi  calon-calon  non-Muslim.
           Tausyiah MUI sendiri pada akhirnya tidak mendongkrak perolehan suara partai-
           partai Islam secara signifikan. Satu-satunya partai Islam yang memperoleh
           lebih dari 5 persen suara pada pemilu 1999 adalah PPP (10,7 persen).  Dua
                                                                               70
           partai lain yang berafiliasi dengan massa Islam meski berasaskan Pancasila
           dengan perolehan lumayan adalah PKB (berafiliasi NU, 12,6 persen) dan PAN
           (berafiliasi Muhammadiyah, 7,1 persen). Sementara pemenang pemilu 1999,
           sebagaimana diprediksikan, tetap dipegang partai sekular PDIP (33,7 persen)
           diikuti Golkar (22,4 persen). Golkar yang nyaris hancur karena identiknya partai
           ini dengan rezim otoriter Soeharto rupanya menjadi partai yang mungkin paling
           diuntungkan dari tausyiah MUI. Hal ini mungkin salah satunya disebabkan
           oleh posisinya yang memasang sebagian besar calon Muslim, di samping juga
           karena kadung melekatnya partai ini di tengah masyarakat dan sikap belum
           sepenuhnya percaya masyarakat terhadap partai-partai Islam yang semuanya
           merupakan pendatang baru di pemilu 1999.


           Di era pemerintahan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), MUI kembali mengalami         Di era pemerintahan
           perubahan. Sistem keuangan dan hubungan MUI-pemerintah adalah beberapa         Abdurrahman Wahid
           bagian yang paling jelas perubahannya. Selain konsekuensi reformasi, dua      (Gus Dur), MUI kembali
           perubahan tersebut tampaknya berhubungan dan saling memperkuat satu sama      mengalami perubahan.
                                                                                          MUI mengambil jarak
           lain. Penjarakan MUI dari pemerintah muncul seiring dengan pemutusan kucuran     dari pemerintah.
           dana negara untuk MUI yang diberlakukan pemerintahan Gus Dur. Sementara        Menolak usulan Gus
                                                                                           Dur untuk meng-
           usulan Gus Dur untuk membatalkan keputusan pelarangan Komunisme dan            abrogasi keputusan
           pembekuan PKI yang berlaku sejak 1966 karena bertentangan dengan HAM,            pelarangan dan
           dan usulan pembukaan hubungan diplomatik dan ekonomi Indonesia dengan         pembekuan komunisme
           Israel memperkuat pengambilan jarak MUI dari pemerintah.                            dan PKI.

           Menolak  usulan  Gus  Dur  untuk  meng-abrogasi  keputusan  pelarangan  dan
           pembekuan komunisme dan PKI, MUI mengeluarkan dua kali tausyiah, yang
           intinya pertama-tama mengingatkan bangsa Indonesia bahwa ajaran Komunis/
           Marxis-Leninis adalah ideologi yang bersifat anti-Tuhan dan anti-agama yang
           dapat menghancurkan prinsip etis dan agama yang terdapat di dalam Pancasila.
           Kemudian MUI dengan tegas menolak segala usaha untuk menggugurkan





                                                                                                 367
   378   379   380   381   382   383   384   385   386   387   388