Page 386 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 386

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Pengharaman MUI atas Ajinomoto mendapat reaksi dari Gus Dur yang juga
                                    presiden Indonesia pada saat itu. Menurut Gus Dur, MUI sudah salah kaprah
                                    dalam mengeluarkan fatwa haram produk penyedap ini. Menurutnya, produk
                                    Ajinomoto tetap aman dikonsumsi oleh masyarakat Islam.  Namun kritikan
                                                                                             75
                                    Gus Dur tidak berpengaruh apa-apa terhadap fatwa MUI. Sebaliknya, opini
                                    Gus Dur dianggap lebih bersifat politis ketimbang murni karena alasan agama.
                                    Oleh karena itu, partai-partai politik Islam dan partai-partai lain di DPR juga
                                    masayarakat  Islam  secara  umum  lebih  banyak  yang  mendukung  fatwa  MUI.
                                    Perselisihan yang tengah menguat antara legislatif dan Gus Dur pada saat itu
                                    pun makin parah.

                                    Kasus Ajinomoto menjadi preseden monopoli MUI atas apa yang oleh Tim
                                    Lindsey disebut sebagai “regulasi ekonomi Islam” di bidang sertifikasi halal
                                    sebagaimana posisi yang sama didapatnnya dalam hal perbankan Islam.  LP-
                                                                                                         76
                                    POM menjadi satu-satunya lembaga yang berwenang melakukan inspeksi dan
                                    pengidentifikasian kehalalan makanan. Fatwa MUI soal halal tidaknya makanan
                                    pun tidak berfungsi seperti rekomendasi keagamaan di bidang-bidang lainnya
                                    yang tidak memiliki efek mengikat bagi publik. Dalam kasus sertifikasi halal bagi
                                    industri-industri, sebagaimana juga di sektor perbankan, fatwa MUI memiliki
                                    status legal dan menjadi instrumen aturan yang memiliki kekuatan memaksa
                                    sebagaimana yang melekat pada aturan negara.  Lebih jauh, monopoli ini
                                                                                    77
                                    kemudian menjadi sarana utama penggalangan dana MUI setelah kucuran dana
                                    dari APBN yang diperuntukkan bagi MUI dihentikan sejak pemerintahan Gus
                                    Dur.


                                    Sertifikasi halal  adalah proses pelabelan halal terhadap sebuah produk yang
                                    diproduksi atau beredar di Indonesia, sehingga masayarakat Islam menjadi
                                    tergaransi atas kebersihan dan kesesuaian produk tersebut dengan aturan-aturan
                                    yang terdapat dalam doktrin Islam. Lembaga yang berwenang memproduksinya
                                    adalah LP-POM MUI. Dasar dari hal ini adalah UU No. 7/1996 di mana pada Ayat
                                    30 (2) (e) dinyatakan bahwa “setiap orang yang memproduksi atau mengimpor
                                    paket makanan ke Indonesia untuk tujuan komersial harus mencantumkan tanda
                                    yang menempel pada produk atau paket yang menyatakan bahwa produk atau
                                    paket tersebut adalah halal”. Makanan atau barang tersebut haruslah pertama-
                                    tama lolos cek dari lembaga penginspeksi yang terakreditasi, dalam hal ini oleh
                                    LP-POM  MUI.  Setelah  memperoleh sertifikat  halal,  sertifikat tersebut  berlaku
                                    selama dua tahun dan dapat diperpanjang. Lembaga penginspeksi dapat
                                    melakukan uji random terhadap produk tersertifikat sewaktu-waktu yang dapat
                                    mempengaruhi keputusan sertifikat yang diberikan pada saat itu. Demikianlah
                                    beberapa butir aturan yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama soal petunjuk
                                    dan prosedur inspeksi dan pengidentifikasian makanan halal. 78












                    370
   381   382   383   384   385   386   387   388   389   390   391