Page 387 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 387

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           Fatwa, Kekerasan Agama, dan Perkembangan Pemikiran Islam


           Dominasi kelompok konservatif di tubuh MUI pasca-Reformasi tak dapat
           disembunyikan lagi. Gerakan pendulum MUI ke arah konservatisme makin          Gerakan pendulum MUI
           kentara lewat kemunculan beberapa fatwa yang cenderung mengafirmasi           ke arah konservatisme
                                                                                          makin kentara lewat
           perjuangan  kelompok konservatif.  Fatwa-fatwa  terkait usaha pemurnian       kemunculan beberapa
           akidah dan syariat Islam, anggapan sesat bagi keyakinan yang didakwa anti-    fatwa yang cenderung
           mainstream, serta anti-produk pemikiran Barat yang menjadi basis dari usaha       mengafirmasi
           pembangunan demokrasi dan penegakan HAM adalah beberapa fakta yang            perjuangan kelompok
                                                                                          konservatif. Fatwa-
           menurut  beberapa  kalangan membuktikan  posisi  MUI  tersebut. Maka,  tidak   fatwa terkait usaha
           aneh jika kemudian muncul anggapan bahwa antara MUI dan kelompok              pemurnian akidah dan
           konservatif  telah  terjadi  hubungan  yang  saling  menguntungkan,  bahkan   syariat Islam, anggapan
                                                                                          sesat bagi keyakinan
           memperkuat posisi masing-masing. Kelompok konservatif-fundamental merasa       yang didakwa anti-
           terjamin eksistensinya seiring penerbitan fatwa-fatwa  MUI yang cenderung     mainstream, serta anti-
           berpihak pada garis perjuangannya. Sementara MUI juga merasa mendapatkan      produk pemikiran Barat
                                                                                         yang menjadi basis dari
           dukungan masyarakat luas sekaligus membuktikan keberpihakan kepada             usaha pembangunan
           umat dan penguatan aktualisasinya di ranah pembentukan opini publik lewat        demokrasi dan
           afirmasi kelompok konservatif-fundamental yang selalu mendaku diri sebagai   penegakan HAM adalah
                                                                                          beberapa fakta yang
           representasi dari mayoritas Muslim Indonesia.                                   menurut beberapa
                                                                                         kalangan membuktikan
           Puncaknya, dalam  Musyawarah Nasional  MUI ke tujuh  tahun 2005, MUI           posisi MUI tersebut.
           mengeluarkan 11 fatwa di mana dua di antaranya memantik kontroversi sengit
           berkepanjangan, yakni fatwa sesat Ahmadiyah dan pengharaman sekularisme,
           pluralisme dan liberalisme. Tentang Ahmadiyah, fatwa MUI 2005 sebenarnya
           bukan barang baru. Fatwa serupa pernah dikeluarkan MUI pada 1980 yang
           diikuti dengan instruksi kepada kelompok tersebut pada 1984. Namun, kuatnya
           rezim Orde Baru yang selalu mendoktrinkan tabunya membicarakan isu SARA,
           membuat fatwa dan instruksi MUI tersebut tidak berimbas apa-apa di level
           masyarakat. Ahmadiyah tetap bisa melanjutkan hidup dan mempraktikkan
                                                                  79
           keyakinannya sebagaimana yang telah ia mulai sejak 1925.

           Namun demikian, tahun 2005 nampaknya menuturkan cerita yang lain.
           Intensifnya retorika dan kuatnya lobi kelompok Islam radikal kali ini memaksa
           MUI untuk secara lebih tegas kembali mengeluarkan fatwa tentang sesatnya
           kelompok Islam yang berakar di India ini. Fatwa 2005 menggabungkan fatwa
           1980  dan  instruksi  1984  untuk  mempertegas  bahwa  1)  doktrin  Ahmadiyah
           menyimpang dari Islam, 2) para pengikut Ahmadiyah harus kembali ke Islam
           yang benar berdasar al-Quran dan Hadits, dan 3) mendesak pemerintah untuk
           melarang penyebaran dan membekukan Ahmadiyah di seluruh Indonesia.
           Fatwa MUI 2005 inilah yang akhirnya menjadi justifikasi kelompok Islam radikal
           semacam  FUI  dan  FPI  untuk  melakukan  tindak  intimidasi,  kekerasan  fisik,
           persekusi, sampai pembakaran, penutupan kantor dan sarana ibadah kelompok
           Ahmadiyah.








                                                                                                 371
   382   383   384   385   386   387   388   389   390   391   392