Page 389 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 389

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           cendekiawan Dawam Raharjo yang secara tegas menyatakan bahwa fatwa
           tersebut jelas telah mencederai dan melanggar kebebasan berpikir, berbicara,
           dan  beragama  dan  berkeyakinan  yang  merupakan  hak  paling  dasar  bagi
           manusia.  Ia juga menuding bahwa pendefinisian tiga istilah kunci dari fatwa
                   85
           tersebut sangat problematis dan salah kaparah. Azyumardi Azra, intelektual
           Islam dan rektor UIN Jakarta pada saat itu, memberikan kritik senada dengan
           mengatakan bahwa MUI tidak bisa melarang atau mencegah orang untuk
           berpikir, sementara pluralisme, liberalisme dan sekularisme bukanlah bentuk
           dari ideologi, melainkan cara berpikir.  Terkait problem pendefinisian MUI atas
                                              86
           tiga istilah kunci dalam fatwa, Azra beranggapan bahwa hal itu terjadi karena
           keanggotaan  MUI  didominasi  oleh  kelompok  yang  memahami  al-Quran  dan
           Hadits secara literal tanpa menggunakan akal dan logika.


           Kritik yang sama juga diberikan oleh representasi ormas Islam terbesar di
           Indonesia. Hasyim Muzadi, ketua umum PB NU waktu itu, mengatakan bahwa
           fatwa MUI adalah sebuah langkah mundur dalam konteks hubungan antar-
           agama di Indonesia. Sementara Masdar Mas’udi, tokoh NU lainnya, secara tegas
           meminta MUI untuk mencabut fatwa itu karena dapat memicu dan menaikkan
           tindak kekerasan atas nama agama. Kritik dari kalangan Kristiani disuarakan
           Franz Magnis-Suseno yang mengatakan bahwa konsep pluralisme sebenarnya
           sangat jelas dan ia merupakan aspek yang sangat positif dalam konsep realitas
           keberagaman. Ia beranggapan bahwa istilah pluralisme yang diberikan MUI
           adalah definisi khas kelompok garis keras yang secara tidak langsung akan       Fatwa-fatwa MUI
                                                                                            terutama pada
           memicu tindak persekusi terhadap kelompok Islam yang berpaham pluralis. 87      kepengurusannya
                                                                                            pasca-Reformasi
                                                                                           dengan demikian
           Fatwa-fatwa  MUI  terutama  pada  kepengurusannya pasca-Reformasi  dengan     terlihat lebih masuk ke
           demikian terlihat lebih masuk ke ranah politik sebagaimana terlihat pada kasus   ranah politik. Terlihat
           pemilu dan fatwa terkait dengan hak kelompok tertentu. Fatwa yang dikeluarkan   pada kasus pemilu
                                                                                           dan fatwa terkait
           MUI sendiri tidak jarang memantik penerbitan kebijakan baru dari Kementerian   dengan hak kelompok
           Agama yang lebih memiliki kekuatan hukum formal dan karenanya mengikat         tertentu. Fatwa yang
           subyek-subyek yang tercover dalam keputusan tersebut. Kolaborasi keduanya di   dikeluarkan MUI sendiri
           satu sisi memunculkan penguatan konservatisme dan radikalisme Islam. Hal ini   tidak jarang memantik
                                                                                          penerbitan kebijakan
           misalnya terlihat pada kemunculan tokoh agama dan ormas Islam, yang, baik     baru dari Kementerian
           secara terbuka maupun diam-diam, mendukung atau merestui tindakan yang          Agama yang lebih
           membatasi dan melanggar asas kebebasan beragama.  Kelompok ini terlihat         memiliki kekuatan
                                                               88
                                                                                           hukum formal dan
           memiliki ambivalensi sikap soal gangguan kerukunan beragama yang muncul        karenanya mengikat
           di Indonesia. Sebagai contoh, kelompok ini mengecam terorisme, namun tidak     subyek-subyek yang
           bersikap sama terhadap kekerasan berbasis agama terkait konflik sektarian dan    tercover dalam
                                                                                          keputusan tersebut.
           perselisihan rumah ibadah.                                                    Kolaborasi keduanya di
                                    89
                                                                                         satu sisi memunculkan
           Sementara pada sisi lain kolaborasi kebijakan Kementerian Agama dan MUI            penguatan
           pasca-Reformasi  menyulut  diskusi  panjang  dan  mendalam  soal  pemikiran     konservatisme dan
                                                                                           radikalisme Islam.
                     90
           keislaman,  sebagaimana  terlihat  pada perdebatan  antara Dawam  Raharjo







                                                                                                 373
   384   385   386   387   388   389   390   391   392   393   394