Page 390 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 390
Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3
versus Ma’ruf Amin atau penerbitan buku oleh Budhy Munawwar Rachman
versus Adian Husaini soal kebebasan beragama dan berkeyakinan, terutama
menyikapi kasus Ahmadiyah. Dari sini, beberapa kalangan kemudian
menganggap kebijakan Kementerian Agama dan MUI juga pada gilirannya
mempengaruhi perkembangan wacana pemikiran Islam di Indonesia.
Penutup
Kementerian Agama dan MUI adalah dua lembaga yang terkait erat dengan
persoalan keagamaan di Indonesia. Kementerian agama merupakan lembaga
resmi yang dibuat oleh negara untuk mengurusi dan membuat kebijakan di
bidang keagamaan bagi seluruh penganut agama yang terdapat di Indonesia.
Biaya operasional kementerian ini berasal dari APBN. Sementara MUI adalah
sebuah organisasi sosial kemasyarakatan yang berfungsi sebagai wahana
bagi para ulama, zuama, dan cendekiawan muslim Indonesia dalam rangka
memberikan penjelasan atau keputusan hukum tentang persoalan keagamaan
yang muncul di tengah umat Islam Indonesia. Pada fase awal pendiriannya,
anggaran MUI berasal dari negara. Baru sejak masa pemerintahan Gus Dur
sumbangan APBN ke organisasi ini dihentikan.
Dua lembaga keagamaan ini memiliki kesamaan dalam hal bahwa salah satu
peran yang diembannya adalah untuk menjaga keharmonisan hubungan antar-
agama dalam memantapkan persatuan dan kesatuan bangsa. Pembinaan
kerukunan umat beragama karenanya menjadi salah satu program pokok sejak
Kementerian Agama didirikan. Sementara MUI sebagai penghubung umat
dengan pemerintah, sekaligus penasehat pemerintah di bidang keagamaan
menjadikan kerukunan agama sebagai dasar dari sebagian fatwa yang
dikeluarkannya. Sayang, pada beberapa kasus, kedua lembaga ini bukannya
menjadi penjaga malah menjadi pemicu permasalahan kerukunan antar-
agama itu sendiri. Kementerian Agama, misalnya, tidak bisa menjembatani dan
menyelesaikan kritik para aktivis HAM yang memandang UU PNPS sebagai salah
satu celah akan munculnya intoleransi terhadap kelompok minoritas agama. MUI,
pada titik lain, malah menjadi wadah kelompok Islam berhaluan fundamental-
radikal untuk mengejawantahkan keyakinannya yang kerap bertentangan
374

