Page 388 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 388

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    Dari 2005 sampai 2008 intesitas kekerasan yang dialamatkan kelompok Islam
                                    radikal terhadap jamaah Ahmadiyah begitu tinggi. Tidak berhenti sampai
                                    pada  ancaman  langsung  ke  Ahmadiyah,  kelompok  radikal  pada  2008  juga
                                    mendesak  pemerintah  untuk  mengeluarkan  Surat  Keputusan  Bersama  (SKB)
                                    Menteri Agama, Jaksa Agung, dan Menteri Dalam Negeri tentang penyesatan
                                    dan penghentian semua aktivitas penyebaran Ahmadiyah di Indonesia (SKB tiga
                                    menteri 2008). Di tahun-tahun itu, jamaah Ahmadiyah dipaksa untuk kembali
                                    ke ajaran Islam yang benar.  Bahkan, seperti disuarakan seorang petinggi FPI
                                                              80
                                    Shabri Lubis, jamaah Ahmadiyah harus diperangi. Di muka umum, petingggi
                                    FPI itu menyeru umat Islam untuk mengibarkan bendera perang terhadap
                                    Ahmadiyah dan menyatakan bahwa mereka telah merusak akidah Islam yang
                                    karenanya halal darahnya.  Beberapa organisasi kemudian mencatat bahwa
                                                             81
                                    selama 2005 sampai 2011 telah terjadi perusakan dan pembakaran terhadap
                                    rumah, masjid, kantor, dan sekolah-sekolah Ahmadiyah, di Jawa Barat, Lombok,
              Fatwa haram yang      dan Banten, dan minimal dua orang jamaah Ahmadiyah telah terbunuh.  82
             diterbitkan MUI untuk
            pluralisme, liberalisme   Fatwa haram yang diterbitkan MUI untuk pluralisme, liberalisme dan sekularisme
            dan sekularisme adalah
            bentuk lain dari makin   adalah bentuk lain dari makin sejalannya MUI dengan arus konservatisme
            sejalannya MUI dengan   Islam yang menguat pasca-Reformasi. Dalam fatwa tersebut, pertama-tama
              arus konservatisme    MUI memaparkan pendefinisiannya  terhadap ketiga isu tersebut. Pluralisme
             Islam yang menguat
               pasca-Reformasi.     dibedakan  MUI  menjadi  dua  macam:  pluralisme  agama  (religious pluralism)
             Pluralisme dibedakan   dan  pluralitas  agama-agama  (plurality of religions).  Term  pertama,  yang
               MUI menjadi dua      menjadi perhatian dan ingin ditolak MUI, dimaksudkan sebagai pemahaman
              macam: pluralisme
               agama (religious     bahwa semua agama adalah sama dan kebenaran setiap agama adalah relatif.
                pluralism) dan      Sementara yang kedua, yang dapat diterima MUI, adalah realitas terdapatnya
            pluralitas agama-agama   agama yang berbeda-beda dan pemeluknya hidup saling berdampingan.
             (plurality of religions).
              Liberalisme agama     Liberalisme agama dipahami MUI sebagai pemahaman atau pemaknaan teks
             dipahami MUI sebagai   agama dengan menggunakan akal dan hanya menerima doktrin agama yang
               pemahaman atau       sesuai dengan rasionalitas. Sedangkan sekularisme didefinisikan MUI sebagai
            pemaknaan teks agama    pemisahan urusan dunia dan agama, di mana agama dimaknai sebagai semata
            dengan menggunakan
                akal dan hanya      hubungan pribadi dengan Tuhan, sementara hubungan sesama manusia diatur
              menerima doktrin      berdasarkan kontrak sosial. Selanjutnya, MUI sampai pada inti fatwanya dengan
              agama yang sesuai
             dengan rasionalitas.   menyatakan bahwa pluralisme, liberalisme dan sekularisme membahayakan
                 Sekularisme        ajaran Islam, oleh karena itu haram hukumnya bagi umat Islam untuk mengikuti
               didefinisikan MUI    paham tersebut. 83
              sebagai pemisahan
               urusan dunia dan
            agama, di mana agama    Fatwa pengharaman pluralisme, liberalisme dan sekularisme tak pelak
               dimaknai sebagai     mendapatkan respon dan kritik dari berbagai macam kalangan dan dari berbagai
              semata hubungan
            pribadi dengan Tuhan,   komunitas agama. Sementara para pendukung fatwa tersebut, kelompok Islam
             sementara hubungan     radikal, menjadikan fatwa MUI sebagai legitimasi untuk melakukan ancaman
            sesama manusia diatur   dan tindak kekerasan, sebagaimana terlihat pada penyerbuan terhadap kantor
             berdasarkan kontrak    JIL di Utan Kayu Jakarta Timur, beberapa hari setelah dikeluarkannya fatwa.
                                                                                                             84
                   sosial.
                                    Kritik kalangan inklusif dan liberal terhadap fatwa MUI ditunjukkan oleh







                    372
   383   384   385   386   387   388   389   390   391   392   393